Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Januari 2022

Bijak Menempatkan Diri

Pagi-pagi saat mau memulai aktivitas KKN, tak sengaja membuka Tranding Twitter Indonesia. Tiba-tiba terkagetkan dengan berita tentang Pembakaran Masjid di Bagik Nyaka Lombok Timur yang memuncaki tranding topic Indonesia.


Tidak ingin mengomentari siapa yang benar dan siapa yang salah, saya hanya ingin bercerita tentang Perjalanan hidup saya tentang Perbedaan Manhaj dalam berislam.

Sekarang diusia yang masih ke-21 rasa-rasanya terlalu senonoh untuk berkomentar jauh tentang kasus pelik yang viral akhir-akhir ini, tapi sedikit sejarah hidup saya mungkin bisa diambil secuil pelajarannya tentang menyikapai perbedaan.

Saya lahir di Desa Batuyang, Desa yang dari dulu Suka Puasa dan Lebaran lebih dulu dari ketetapan mentri agama, kalo sholat subuh di Masjid tidak qunut, kalo tarawih 8 rakaat. Artinya dari kecil lingkungan kami di mesjid kental sekali dengan kultur Muhammadiyah, salah satu Ormas Islam tertua dan terbesar di Indonesia.

Saat mau masuk SMP, awalnya dulu mau masuk di Pondok Pesantren Nurul Hakim di Kediri Lombok Barat, sempat mengikuti orientasi satu minggu, tapi tidak jadi karena sakit.
Akhirnya masuk di salah satu Madras Tsanawiyah di Wanasaba Lombok Timur.
MTs Nahdlatus Saufiyah Wanasaba, sekolah yang awalnya tidak pernah saya niatkan tapi takdir ternyata berkata lain. Waktu 3 tahun ternyata membuat saya bangga dan cinta terhadap sekolah MTs saya dulu.

Nahdlatul Saufiyah adalah salah satu ormas Islam yang berkultur sangat NU, bahkan didepan gerbang sekolah kami ada logo NU yang sangat besar terpampang.
Ketika saya MTs dulu tentu banyak sekali kultur shock yang saya alamai, seperti diajak Ziarah makam dll. Yang intinya sangat NU sekali secara kultur.
Ada banyak sekali hal-hal baru, sudut pandang baru, yang saya dapatkan dan tentunya belum saya dapatkan sebelumnya.

Saat SMA, Saya memilih untuk melanjutkan di SMA 1 Aikmel, sekolah negeri yang rasa pesantren kata orang.
Bukan hanya karena Sekolah kami dulu dekat dengan Pondok Pesantren, tapi aturan-aturan yang dibuat oleh guru2 kami dulu memang sangat MasyaAllah, seperi siswi perempuan harus memakai hijab yang menutup dada, kemudin baju harus menutup bokong, tidak boleh memasukkan baju.
Untuk siswa bahkan ketika sholat dzuhur berjamaah, ketika kita lupa bawa peci, kita bisa dihukum lari  keliling lapangan.
Betapa islaminya kultur sekolah kami dulu.
Disinilah awal mula saya banyak bergalu dengan teman2 dengan latar belakang pemahaman agama yang berbeda. Ada yang nggk bolehin ziarah makam, ada yang membolehkan, ada yang tidak membolehkan zikir di rumah orang yang meninggal ada yang tidak, dan masih banyak lagi hal-hal yang berbeda dan sudut pandang yang berbeda yang saya temukan.

Aikmel, khususnya Bagik nyaka tentu sudah sama2 kita ketahui merupakan daerah pusat Pondok Pesantren Salafi di Lombok Timur.

Beranjak di masa kuliah, saat baru masuk di Unram Alhamdulillah saya dipertemukan dengan orang-orang di Mt An-Nahl Fakultas Peternakan, yang kemudian menjadi jalan pembukaan bertemu dengan teman-teman di Lembaga Dakwah Kampus. Tentunya disini lingkup interaksi dengan teman2 dengan berbagai macam latar belakang dan pemahaman keagamaan tambah banyak, tapi Alhamdulillah kami bisa disatukan dengan pemahaman yang sama tentang pentingnya persatuan umat. Yang oleh orang diidentifikasi sebagai gerakan Tarbiyah.

Berbagai isu miring tentu silih berganti menghampiri, di Cap gerakan eksklusif, di framing sebagai penyebab Unram dikatakan Kampus Radikal, diisukan sebagai gerakan multinasional, radikal, berideologi Khilafah dll. Yang tentu sangat-sangat menyesakkan.

Dari semua pemahaman, dan gerkan yang berbeda-beda tersebut, tentu saja bukan kapasitas saya untuk menilai mana yang lebih baik, karena memang itu semua bukan untuk dibandingkan, melainkan untuk difahami sudut pandangnya.

Ketika duduk beraama keluarga atau teman yang bermanhaj Salafi tentu saya akan menghindari cerita tentang kisah-kisah heroik saat turun kejalam bersama teman-teman sesama Mahasiswa, karena dikajian Salafi Demo hukumnya haram, walau itu aksi damai sekalipun. Saya juga tentu menghindari bercerita kalo saya misal habis menghadiri acara Maulidan karena itu dihukumi bid'ah.

Ketika duduk bersama teman-teman yang kulturnya NU tentu saya juga mengindari bercerita kalo sebagian keluarga saya bermanhaj salafi, saya juga tentu tidak akan menghukumi bid'ah dzikiran atau maulidan, atau bahkan sekedar bercerita kalo saya juga sering ikut kajian di Masjid Lawata Mataram pun saya hindari, karena tentu mereka akan merasa beda dengan saya.

Poinnya adalah bijak menempatkan diri, bijak menyampaikan sesuatu, bijak menanggapi suatu isu.


Jumat, 10 Desember 2021

BAGAIMANA ISLAM MEMULIAKAN PEREMPUAN

 BAGAIMANA ISLAM MEMULIAKAN PEREMPUAN - Sebenarnya apa yang kalian perjuangkan hari ini, sudah dilakukan 1400 tahun yang lalu oleh Rasulullah Muhammad SAW.

Gambar Ilustrator


Di zaman itu, yang terjadi bahkan tidak hanya diskriminasi gender, bahkan terjadi Genosida Gender. Di zaman itu, bahkan melahirkan anak perempuan dianggap sebagai sebuah aib. lalu banyak anak-anak tak berdosa dibunuh begitu saja.

Lalu Islam datang dengan semangat memberi rahmat bagi semesta alam, islam datang bag air penyejuk dahaga jiwa yang haus akan kebenaran.

Islam datang bahkan tak hanya membebaskan, islam datang untuk memuliakan. Al-quran bahkan punya surah tersendiri tentang An-nisa sedang hal yang sama tidak untuk laki-laki.

Sebenarnya kesetaraan yang kalian perjuangkan hari ini, satu langkah dibelakang konsep yang ada dalam islam. Islam bahkan menamainya "Keserasian".

Sejatinya Laki-laki dan Perempuan tidak untuk di banding-bandingkan, atau di buat sama dalam semua hal, karena sesungguhnya itu merupakan 2 hal yang saling melengkapi, saling menutupi kekurangan masing-masing, saling berkolaborasi untuk menciptakan peradaban madani.

Laksana Nahar (siang) dan lail (malam), Sama' (langit) dan Ardh (bumi), senantiasa disandingkan dalam Al-quran, bukan untuk dibanding-bandingkan, tapi untuk saling melengkapi.

Lihatlah, betapa sempurnanya agama islam ini, ia hadir bagai mentari dalam kegelapan ego manusia. Memberi jalan out of the box, yang mungkin sebelum tak pernah terpikirkan.

Senin, 01 Juni 2020

Dibalik Absurdnya Kampanye Minum Susu Ala Anak Peternakan

( Gambar Hanya Pemanis )


“Kritik adalah bentuk cinta yang paling tinggi"

Tepat hari ini, 1 juni sejak tahun 2001 bagi kalangan pemerhati kesehatan diperingati sebagai hari susu sedunia atau World Milk Day. Hari Susu Sedunia merupakan hari perayaan untuk memperingati pentingnya susu sebagai menu makanan global.

Mungkin bagi sebagian banyak kalangan, ini adalah hari perayaan yang aneh, “susu kok dirayakan?”.wkwkk, “mending minum kopi”. Yaa, bagi banyak orang susu hanyalah salah satu dari jenis minuman yang dijual ditoko-toko, sama dengan minman yang lain, tapi bagi masyarakat yang berkecimpung didunia peternakan, terlebih bagi Mahasiswa Petrnakan, susu adalah minuman paling ‘teks book’ yang nggak habis-habis untuk dibahas, baik dari segi senyawa yang dikandungnya, teknologi-manajmen produksinya, teknologi pengolahannya, bahkan sampai manajmen pemasaran dan distribusinya. Semua itu udah jadi makanan sehari-sehari dibangku kuliah.

Omong Kosong Kampanye Minum Susu

“sebagai mahasiswa peternakan, kita harus mengkampanyekan gerakan minum susu kepada masyarakat, karna susu adalah minuman yang bla..bla...bla...”.

“dengan minum susu, kita telah berkontribusi membantu mencerdaskan kehidupan bangsa, yang merupakan wujud dari cita-cita bangsa sesuai dengan pembukaan Undang-Undang Dasar. Selain itu kampanye minum susu juga merupakan salah satu upaya peningkatan kesejahteraan para peternak penghasil susu  Indonesia”.

“bla....bla....bla....” dan masih banyak lagi kata-kata heroik dalam ruang kelas yang sangat membosankan itu. BULSHIT !!. Bagaimana mungkin mengkampanyekan minum susu, sedang tiap hari lauk di kost cuman ‘indomie-nasi putih’. Bagaikan mengajak orang mencuci baju sedangkan baju sendiri pada kotor.

Daya Beli (Ekonomi) Masyarakat Lemah

Pertanyaan klise yang bahkan S3 Ekonomi Harvard-pun tidak bisa menjawabnya. “bagaimana mungkin menyuruh masyarakat meminum susu, sedang harga susu 1 liternya sama dengan harga beras?”.

“bagaimana mungkin menyuruh masyarakat minum susu, sedang masih banyak masyarakat yang bahkan untuk makan esok hari saja belum jelas?”.

Tentu bagi generasi saya, saat di sekolah dasar istilah ‘makanan 4 sehat-5 sempurna’ bukanlah suatu hal yang asing. Dari isitilah itu saja, kita sudah bisa melihat bagaimana jauhnya masyarakat Indonesia dari minum susu.

Bagaimana tidak, dalam istilah makanan ‘4 Sehat-5 Sempurna’, ‘4 sehat’ diisi dengan berbagai kebutuhan pangan seperti beras hingga daging, sedangkan ‘5 Sempurna’ sebagai bentuk tertinggi dari kesempurnaan maknan hanya diisi oleh susu. “kesempurnaan makanan hanyalah milik susu seorang” wkwkwk

“eits,, jangan salah bro, sesuai dengan teori ekonomi, tentunya setiap produk juga punya pasarnya tersendiri, begitu juga dengan susu, jika dibanding dengan rokok, harga susu nggak jauh beda tuh, malah harganya bersaing, padahal rokok dan susu ibarat bumi-langit, bagaikan surga-neraka, tapi kenapa orang memilih membeli rokok”.

“itulah sekmen yang disasar oleh kampanye gerakan minum susu ini bro, apalagi Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat konsumsi tembakau tertinggi di dunia, sebaliknya juga merupakan salah satu negara dengan konsumsi susu yang sangat rendah”

Ah,, sudah lah gue bingung, terserah lah... otak gue ambyar !! wkwkwk...

Industrialisasi Peternakan

Tentu tak asing diingatan kita, saat Lembaga Perlindungan Konsumen Indonesia menggugat para perusahaan ‘Susu Kental Manis’ lantaran menggunkan istilah ‘Susu’ dalam produk yang dianggap tidak merepresentasikan susu dalam produk tersebut, produk tersebut dianggap mengkapitalisasi kata ‘susu’ dalam istilah ‘susu kental manis’, karena dalam produk tersebut tidak ada ‘susunya’, melainkan hanya ‘gula dengan perasa susu’.

Bukan kasus itu sebenarnya yang ingin saya bahas, melainkan saya hanya ingin menujukkan bagaimana recehnya percakapan bangsa ini tentang susu. Dibanding membicarakan bagaimana masa depan produksi susu indonesia yang makin hari makin menurun, justru yang naik dipermukaan adalah pembahasan receh yang menurut saya tidak lebih penting dari permasalahn yang ingin kita bahs kali ini.

Bahkan menurut saya, pembahasan tentang pembangunan peternakan indonesia secara umum jauh lebih penting dari hanya sekedar kampanye minum susu.

Rasa-rasanya saat ini, tidak ada platform yang jelas tentang pembangunan peternakan indonesia secara umum, darimana kita mulai, sudah dalam tahap apa kita, bagaiman langkah-langkah untuk mencapai peternakan indonesia yang bedikari, rasanya-rasanya sulit sekali saya mendengarkan diskusi-diskusi dengan tema ini. Kita lebih sering mewacanakan sesuatu yang absurd, daripada membahas permasalahan yang ril ada didepan mata kita.

Kesulitan Mengambil Peran

Saat menonton film Rudy Habiebi, iri sekali rasanya melihat bagaimana peran mahasiswa kala itu ketika merencanakan arah ekonomi bangsa, bahkan tak luput dari pukul-pukulan karena kerasnya argumentasi yang terjadi diruang diskusi, meski itu mungkin saja hnyalah sebuah dramatisasi didalam film, tapi tentu kejadian sebenarnya tak akan jauh berbeda.

Iri rasanya melihat mereka berjuang sesuai bidang keilmuannya masing-masing, yang nantinya akan menjadi arah pembangunan indonesia, sedangkan kita hari ini seolah bagai tak peduli dengan semua itu.

Rasanya tak ada tempat lagi bagi kita untuk dunia peternakan indonesia ini, bahkan hanya untuk menjadi ‘buah bibir’pun tidak. Tak ada lagi yang menarik untuk dibahas dipetrnakan Indonesia hari ini.

Selasa, 19 Mei 2020

Prinsip Dalam BPJS Kesehatan Itu Bukan Gotong Royong, Tapi Penindasan




Suatu hari saya tidak sengaja mendengar curhatan teman ibu saya sesama pedagang di pasar. Katanya, beliau punya kerabat yang dicari-cari petugas BPJS Kesehatan, layaknya depkolektor yang memburu orang yang berhutang.

Yang membuat miris, kerabat belia ini, katanya punya dua anak, dan suaminya baru meninggal, sedangkan semua anggota keluarganya terdaftar sebagai peserta pengguna BPJS Kesehatan.

Sebelum suaminya meninggal, memang tidak ada masalah dengan keluarga ini, karena penghasilan suaminya terbilang cukup untuk membayar tagihan bulanan BPJS, tetapi takdir berkata lain, ketika suaminya meninggal, penghasilan keluarganya juga turun drastis, sehingga ia tidak mampu lagi untuk membayar iuran bulanan BPJS tersebut.

Singkat cerita, dikabarkan, beliau dalam beberapa bulan terpaksa menunggak pembayaran BPJS, dan tentunya secara aturan, itu juga akan membuat denda (karena menunggak pembayaran) menjadi terus membengkak, walaupun layanan BPJSnya tidak pernah digunakan. (ambyar kan?).

Mau berhenti jadi pengguna BPJS, katanya nggak bisa, (aturan hukumnya bilang, kalo sudah mendaftar nggak bisa keluar). Persis kayak gabung anggota komplotan gank motor di sinetron SCTV.

Miris sekali saya mendengar cerita ini, belum lagi iuran BPJS akhir-akhir ini kabarnya tarifnya sering dinaikkan. (kayak cita-cita Pak Jokowi tentang ekonomi Indonesia. “meroket”). Wkwkwk

BPJS Kesehatan Itu Bukan Gotong Royong

Setau saya, dalam prinsip gotong royong itu, peserta secara suka rela mengorbankan kepentingan pribadinya demi tercapainya kepentingan bersama, bahu-membahu saling membantu sesuai kemampuan masing-masing, tolong-menolong agar tercipta suatu masyarakat yang sejahtera dan harmonis.

Tapi dalam banyak kasus, BPJS ini bukan lagi wadah gotong royong, tapi bak bagai malaikat maut yang siap mencabut nyawa masyrakat, dengan modal iming-iming seles yang jago merayu, akhirnya banyak masyarakat yang trjebak dalam jerat ‘hutang seumur hidup’, atas nama jaminan kesehatan.

Masyarakat Sudah Putus Asa

Membicarakan tentang permasalahan kesehatan indonesia memang tidak ada ujungnya, dari mulai biaya kuliah kesehatan yang mahal, fasilitas kesehatan yang belum merata disetiap daerah, sampai yang sedang hangat-hangatnya saat ini, yakni pengadaan jaminan kesehatan bagi rakyat (BPJS) yang makin hari, makin memperihatinkan.

Tapi bagi kita rakyat kecil, itu rasa-rasanya nggak ada gunanya, mau kita ngomong sampai berbusapun nggak ada tanggapan, jangankan kita rakyat kecil, suara DPR pun nggak ngaruh, bahkan, putusan Mahkamah Agung yang membatalkan keputusan Pemerintah tentang kenaikan iuran BPJS, nggak ngaruh!. (mau apalagi cobak, wong pemerintah udah tutup telinga, tutup mata) nggak ada harapan ferguso !!

Pembahasan seecara politis sudah mentok, secara hukum juga sudah mentok, dan tetep saja nggak ada kabar positif, terus mau kemana lagi rakyatmu ini mencurahkan isi hatinya pak...? (masa mau ke Mamah Dedeh?).




Senin, 18 Mei 2020

Gelar “Haji” Bagi Orang Yang Sudah Melaksanakan Ibadah Haji Itu ‘Norak’!!


 Bagi orang Lombok, panggilan ‘Amaq’ atau ‘Bapak’ untuk memanggil seorang ayah, bukan hanya soal komparasi antara bahasa sasak dan bahasa indonesia, melainkan sebuah gambaran ‘status sosial’ suatu keluarga didalam masyarakat.

( gambar hanya pemanis )

Biasanya, ‘Amaq’ adalah panggilan seorang anak kepada ayahnya dari kasta petani dan buruh. Sedangkan panggilan ‘Bapak’ biasanya digunakan oleh kalangan orang-orang terpandang, seperti para pegawai pemerintah, atau tokoh masyarakat.

Kaitannya dengan penggunaan gelar ‘Haji’, (bagi orang yang sudah melaksanakan ibadah haji), jika seorang ‘Amaq’ sudah berhaji, dan resmi menyandang gelar haji, maka secara otomatis, dia yang sebelumnya hanyalah seorang ‘amaq’, resmi juga menjadi ‘bapak’.  Namanya bukan “amaq tuan” (amaq haji) , tapi “bapak tuan” alias "bapak haji". Ini secara khusus, untuk orang lombok lho ya,, nggak tau deh kalo daerah lain.

Bagi sebagian masyarakat, penambahan gelar ‘Haji’ dibelakang nama dan perubahan panggilan dari ‘amaq’ menjadi ‘bapak’, merupakan sesuatu yang sangat sakral. Kalo dia sudah haji, lalu kita panggil dia ‘amaq’ bisa-bisa dia nggak mau noleh, ya,, namanya juga udah mendarah daging. Seolah-olah ibadah haji Bukan lagi murni untuk mencari haji yang mabrur tapi juga merembet pada ritual penambahan nama dan peningkatan status sosial. Kan jadi ambyar tuh...

Gelar Haji Merupakan Siasat Penjajah Belanda Untuk Menandai Tokoh Yang Berpotensi Menggoyah Pemerintahan Kolonial

“Hah,,, baru tau saya?”
Bagi orang-orang yang berfikiran sempit dan malas membaca, pasti kaget kalo kita kasih tau gelar haji itu sebenarnya cuman siasat Penjajah Belanda untuk menandai tokoh-tokoh yang berpotensi menggoyah pemerintahan kolonial.

Sejak zaman dahulu pemerintah kolonial belanda, telah menyadari kekuatan yang dimiliki umat islam begitu besar. Jika itu semua dapat digerakkan dengan maksimal, habislah kekuasaan mereka.

Intinya, yang mereka harus matikan adalah para tokoh-tokoh masyarakatnya (orang-orang yang didengar oleh masyarakat). Karena kalo mereka tidak diawasi, mereka berpotensi menggerakkan masa, dan mengganggu stabilitas kemanan negara pada masa itu.

Karena kebanyakan orang-orang yang mampu berhaji pada masa itu adalah mereka yang punya potensi seperti diatas, maka oleh sebab itulah, sebagai penanda, mereka di beri gelar ‘Haji’ dibelkang namanya, supaya mereka bisa mudah dipantau.

Kalo tiba-tiba ada suatu kelompok melakukan pemberontakan, tinggal disingkirkan tokoh masyaraknya yang sudah berhaji, maka secara otomatis, habis lah kelompok itu, karena tokohnya sudah dihentikan.

Gelar ‘Haji’ Itu Bid’ah (eh, jangan sensi dulu.....)

Penambahan gelar ‘haji’ bagi orang yang telah melaksanakan ibadah haji adalah suatu hal yang mengada-ada dalam agama, karena tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, tidak pernah dicontohkan oleh Para Sahabat nabi, Tidak pernah diajarkan oleh para imam mazhab, bahkan, tidak pernah diajarkan oleh wali songo, (yang notabennya merupakan ulama yang menyebarkan agama islam di Nusantara). Sehngga, bisa dibilang ini adalah perkara yang diada-adakan, alias ‘bid’ah’.

Bahkan, walaupun ditinjau dari aspek budaya, ini juga bukan budaya indonesia. Ini sebenarnya, warisan penjajah kolonial!. Jadi ini bukan budaya indonesia !. ini budaya barat !. mau dibilang ‘pengikut budaya barat?’

Padahal kalo dipikir-pikir, nggak ada tuh ketentuan menambahkan gelar dibelakang nama jika seseorang pernah melaksanakan suatu ibadah tertentu.

Hanya karena bapak A sudah melaksanakan ibadah haji, lantas dia diberi gelar haji dibelakang namanya. Berubahlah ia jadi “H. A” (Haji A). Sedangkan ibadah-ibadah yang lain, nggak kyak gitu tuh.

Misalkan nih, saya sudah melaksanakan ibadah sholat, nggak ada tuh yang manggil saya “S. Aziz” (Sholat Aziz), saya sudah melaksanakan Ibadah Puasa, nggak ada tuh yang manggil saya “P. Aziz” (Puasa Aziz). Wkwkwk,,, kan jadi lucu

Oke deh kalo ada yang bilang “kan itu khusus untuk ibadah haji, karena perintahnya sekali seumur hidup”. lah justru kalo pola pikirnya seperti itu, harusnya ibadah-ibadah yang lebih wajib untuk dilaksankan, lebih diperhatikan.

“kan itu khusus untuk ibadah haji, karena biayanya besar” . lah lu kira biaya zakat juga nggak besar, biaya jihad nggak besar?. Orang yang berjihad aja, kita sebut “Syuhada” jika dia telah gugur dimedan juang, itupun nggak di tambahin tuh, gelar “S” dibelakang nama dibatu nisannya.

Galar Haji Hanya Ada di Indonesia

Orang Arab Saudi aja, yang rumahnya depan Ka’bah, nggak ada tuh yang dipanggil Pak Haji, padahal mereka bisa haji tiap tahun, kalo mereka mau. Muhammad bin Salman (raja saudi) aja nggak ada tuh yang manggil beliau H. Muhammad bin Salman.

Paul Pogba aja, (orang perancis, pemain bola dari club Manchester United) yang sering melaksanakan ibadah haji, nggak ada tuh tambahan gelar Haji dinama yang ada di Jersinya. 
( source : jawapos.com )

Padahal kalo seandainya ditambahin, terus jadi “H. Pogba”  wah,,, keren banget kayaknya, bisa jadi headline berita internasional, “sudah melaksanakan ibadah haji, nama di jersi Paul Pogba di tambahkan H”. wkwkwk,, ambyar.. !

Tulisan Ini Bukan Sentimen

“katakanlah kebenaran, walaupun itu pahit”
Sebagai penutup, perlu rasanya untuk saya sampaikan, bahwa tulisan ini semata-mata saya buat sebagai media menyampaikan keresahan saja, bukan didasarkan sentimen, atau kebencian kepada ‘Bapak Haji atau Ibu Hajjah’. Karena seringkali dalam banyak penglaman, seolah-olah bagi orang yang telah melaksanakan ibadah haji, lebih mengutamakan kenaikan status sosial karena gelar hajinya, daripada kenaikan ketakwaannya kepada Allah SWT. Kan nanti takutnya ibadah yang sudah dilaksankan dengan banyak pengorbanan harta dan tenaga jatuh pada ria’ (ngeri kan?).

Kan sekarang, yang banyak jadi jargon kampanye di pemiilu itu ‘nasionalis-religius’  tuh, maka oleh sebab itulah kita tunjukkan nasionalisme kita dengan menjunjung budaya indonesia, bukan malah melestarikan budaya pemerintah kolonial belanda. Kita sama-sama tunjukkan religius kita dengan mengikuti ketentuan yang sesuai dengan perintah Nabi dan para Ulama.




Sabtu, 16 Mei 2020

Anggapan Yang Salah Tentang Jurusan IPA

Banyak orang yang bilang masa sekolah adalah masa – masa yang paling indah dalam hidup. Mulai dari TK, SD, SMP, sampai SMA. Berbeda dengan ketika sudah duduk dibangku kuliah, biasanya seseorang sudah tidak lagi memikirkan kesenangan dan hanya fokus untuk masa depan. Masa sekolah memang masa yang tidak bisa terlupakan terlepas dari kebersamaan setiap harinya dalam menuntut ilmu, ada banyak keseruan – keseruan yang tidak bisa didapatkan selain dari kehidupan masa sekolah.
Gambar hanya pemanis
( Source : https://www.wowmenariknya.com/life/sifat-seseorang-berdasarkan-jurusan-sekolahnya-kamu-ambil-jurusan-mana/ )

Diantara jenjang pendidikan yang paling berkesan, mungkin masa SMAlah jawabannya. Banyak orang yang bilang masa SMA adalah masa yang paling indah saat sekolah, meski dijalani hanya 3 tahun, namun diantara jenjang – jenjang pendidikan yang lain, masa ketika duduk dibangku SMAlah yang paling sulit untuk dilupakan.

Perlu diketahui, saat SMA akan dibagi menjadi 3 jurusan, yaitu IPA, IPS, dan Bahasa.Diantara ketiga jurusan tersebut ada satu jurusan yang seringkali diistimewakan ataupun kadang – kadang ditakuti. Yaitu jurusan IPA, entah kenapa ? namun berikut kami paparkan beberapa anggapan yang salah ttg jurusan IPA :

1. Jurusan IPA tidak menghafal, hanya hitung – hitungan

Dimana – mana jurusan yang satu ini memang selalu diidentikkan dengan masalah hitung – hitungan. Seolah itu sudah menjadi gambaran yang selalu melekat dan tidak bisa diganggu gugat. Mata pelajaran – mata pelajaran yang ada dijurusan IPA, seperti KIMIA, FISIKA, BIOLOGI, ataupun Matematika seringkali dianggap sebagaia mata pelajaran yang menyeramkan.

Mata pelajaran tersebut selalu dicap sebagai mata pelajaran yang full itung – itungan dan tidak butuh hafalan. Padahal anggaapan yang seperti itu tidak bisa dikatakan benar 100 %. Justru mata pelajaran tersebut membutuhkan hafalan yang sangat komperhensif. Sedikit saja salah rumus, maka akan salah semuanya. Contoh lain misalkan di mata pelajaran kimia, dari satu materi ke materi yang lainnya selalu terhubung satu sama lain. Jadi jika kita kurang memahami satu bab pelajaran saja, maka akan sulit untuk memahami bab yang lain.

2. Jurusan IPA adalah jurusan yang menakutkan


Banyak siswa yang merasa enggan masuk jurusan IPA karena dia menganggap jurusan IPA itu adalah jurusan yang butuh intelegensy tinggi untuk bisa beradaptasi, padahal anggapan tersebut tidaklah semuanya benar. Yang kamu butuhkan dalam belajar mau masuk IPA atau IPS adalah satu, yaitu tekad yang bulat. Ketika tekadmu sudah bulat ingin memilih jurusan IPA, ambillah ! jangan sampai keraguan menguasaimu. Hehe..

3. Anak IPA orangnya terlalu serius


Dalam belajar memang kita harus selalu serius dalam menjalaninya, dalam artian kita harus sungguh - sungguh dalam memahami semua materi yang kita akan pelajari, agar kita nantinya dapat memahami materi dengan baik. Dalam arti yang sempit memang “terlalu serius dalam belajar” selalu diidentikkan dengan jurusan IPA, padahal tidak semua kok yang kayak gitu. Masalah terlalu serius atau tidak tergantung orangnya, karena setiap orang punya metode sendiri dalam belajar, semua tidak boleh disamaratakan.

Ada orang yang cepat daya tangkapnya ketika belajar dalam kesunyian, ada juga yang akan lebih cepat jika sambil denger musik. Bicara soal keseriusan atau terlalu serius dalam belajar memang tidak bisa dipandang secara sempit ya kawan. Kita harus memandangnya dengan kacamata yang lebih objektif.

4. Anak IPA orangnya pendiam (kalem)


Percaya nggak percaya kalo anggapan anak IPA itu orangnya kalem atau pendiam memang sudah tidak lagi menjadi rahasia. Anggapan ini biasanya banyak datang dari siswa yang memilih jurusan IPS atau bahasa, mereka menganggap kalo jurusan IPA itu terlalu monoton, orangnya pendiem, nggak bisa diajak ngomong dan masih banyak lagi anggapan – anggapan yang seolah – olah menganggap kalo anak IPA itu semuanya maaf ya “bencong”. Padahal itu anggapan yang sangat salah kaprah. Sekali lagi saya tegaskan kalo masalah sifat dan individu seseorang tidak bisa dipandang secara sempit seperti itu. Karena setiap orang punya sifat dan pandangan yang berbeda, dan tidak bisa disamakan.

5. Anak IPA tidak jago dalam komunikasi

Kemampuan berbicara didepan umum memang wajib harus dimiliki oleh semua pelajar, perlu kamu ketahui ternyata banyak orang yang punya ide dan pikiran cemerlang, tapi karena dia kurang jago dalam mengkomunikasikan idenya tersebut, akhirnya diapun dipandang sebelah mata.

Setiap harinya bergelut dengan rumus fisika dan matematika, menyelesaikan masalah – masalah perhitungan yang tak berujung. Itulah setigma yang selalu melekat dengan jurusan IPA. Dan oleh karena itulah banyak yang beranggapan kalo anak yang dijurusan IPA kurang jago dalam masalah komuniasi. Berberda dengan anak yang dijurusan IPS yang setiap hari tidak jauh dari komunikasi atau diskusi – diskusi sosialnya atau yang ada dijuran bahasa yang setiap harinya identik dengan komunikasi. Anak yang ada dijurusan IPA biasanya dinggap hanya bisa ngomong lewat sola dan tulisan dan dianggap kurang cakap, padahal tidak semuanya kok yang seperti itu. Banyak kok anak yang dijurusan IPS yang kurang jago ngomong di depan umum. Sebaliknya, banyak juga anak IPA yang lumayan dalam komunikasi.

Coba deh kamu liat kegiatan ekstra kulikuler yang ada disekolahmu, seringkali dalam ekstra kulikuler banyak siswa yang justru memilih ekstra yang tidak berhubungan dengan jurusan mereka. Contohnya ekstra Debat multybahasa, atau LCC, atau yang lainnya. Disana nggak dibatasi jurusan apa aja yang boleh masuk, disana banyak juga lho anak IPA yang ngambil ekstra debat atau LCC. Kegiatan ekstra kulikuler memang sangat dibutuhkan untuk lebih mengasah bakat setiap siswa. Dengan adanya kegiatan ekstra kulikuler memungkinkan siswa lebih mengembangkan kemampuan yang ia punya dan tidak monoton pada jurusan yang ia ambil.

Jadi untuk adek – adek yang sekarang lagi bingung memilih jurusan, cobalah untuk betul – betul faham apa jurusan yang akan kalian ambil nantinya. Jangan sampai kalian menyesal dikemudian hari. Thanks J

Lingkaran Setan Tembakau

Jika kecap bangau bagitu nikmat karena dibuat dari kedelai hitam pilihan, dibesarkan bagai anak sendiri oleh petaninya, maka rasa-rasanya tidaklah telalu berlebihan kalo saya mengatakan satu bungkus rokok Surya Gudang Garam lebih nikmat dari kecap Bangau.

(foto hanya pemanis. ini foto saya ambil di sawah dekat rumah)
Bagaimana tidak, bagi para petani tembakau, tembakau udah lebih dari anak sendiri. Perawatan tetek-bengeknya dari pra-tanam sampai bisa terjual oleh petani sangatlah melelahkan. Dibanding dengan kita nanam padi, menanam tembakau bisa dibilang dua kali lebih ribet.

Mulai dari persiapan bibit, menyiapkan tanah sawah (dengan segala macam-macamnya), menabur jerami, penaman, dan seterusnya, dan seterusnya.

Tapi, bagi petani, menanam tembakau seolah udah jadi rutinitas tahunan, yang sulit ditinggalkan, ya,,, namanya juga udah masuk lingkaran setan.

Komuditas Pertanian Paling Mahal

Gimana  petani nggak tergoda, wong dibanding komuditas-komoditas pertanian lainnya, tembakau masih jadi yang paling mahal, walau perawatannya yang paling ribet, tapi mau gimana lagi?, jika musim kemarau sudah melanda, dan ketersediaan air terbatas, ya terpaksa harus nanem tembakau. Kalo mau nanam padi butuh banyak air, mau nanam jagung atau kacang tanah? Harganya murah banget. Ya terpaksa deh nanam tembakau.

Walaupun tembakau bagi sebagian orang dianggap sebagai tanaman pembuat mala petaka karena merupakan bahan dasar rokok, tapi bagi para petani, tembakau adalah penyambung hidup, boda amat dah sama dampak rokok, “kan kita cuman jual tembakaunya, bukan rokoknya?”. Celetuk bapak Jono, seorang petani tembakau di kampung ‘Wakanda’. Hehe

Barang Dagangan yang Paling Laris

Bagi para pedagang, rokok adalah barang dagangan yang paling lancar sirkulasi perputaran uangnya, kita nggak usah ambil contoh jauh-jauh deh. Di toko Ibu saya, omset rokok bisa dibilang jadi yang tertinggi setelah beras. Beda-beda tipis lah. Walaupun begitu, perputaran uang dirokok jauh lebih cepat. Kalo umpama beras satu ton dengan harga 9 juta, bisa habis laku berminggu-minggu. Tapi kalo rokok dengan harga yang sama, bisa habis kurang dari seminggu, maksimal seminggu udah beli lagi dah, kalo cuman 9 juta.

Walau margin keuntungannya bisa dibilang kecil, tapi saya jamin deh, kalo masalah laris dipasar jangan ditanya. Ambyar..

Makanya, kalo saya tanya “kenapa ibu selalu marah kalo liat bapak ngerkok, tapi tetep aja jualan rokok?”, ibu saya nggak pernah ngasih jawaban yang memuaskan, selalu jawabannya diplomatis. Walau hati kecilnya bilang benci sama rokok, tapi logika berkata malah sebaliknya.

Rokok Jadi Pengeluaran Terbesar Keluarga

BTW dalam keluarga saya, tema rokok ini sering kali jadi pembahasan yang selalu menarik dan panas. Walau saya bukan seorang perokok, dan satu-satunya perokok di keluarga kami adalah Bapak, tapi beliau selalu bisa memberi pembelaan kalo lagi dimarahin sama Ibu.

Yang menarik, kalo membahas rokok di lingkup rumah tangga/keluarga, ibu saya seolah bisa jadi orang yang berubah 180 derajat, jika dibanding dengan pembahasan rokok sebagai komoditas dagngan. Gimana nggak, Bapak saya adalah seorang perokok aktif dari dulu, sehari bisa habisin satu bungkus rokok Dunhil putih yang sekarang harga 26 ribu. Jika dibanding dengan harga beras yang 10 ribu perkilo, tentu ini udah 2,5 kali lipat lebih.

Ini baru dikeluarga saya aja lho ya, yang perokoknya cuman satu orang, belum lagi kalo misal perokok aktif di satu keluarga bisa dua, tiga atau lebih. Kan bisa ambyar..

Jadi sebagai Ibu rumah tangga yang baik, nggak salah kalo Ibu saya benci sekali sama rokok. Menarik kan?. Ibu saya jadi orang berkeperibadian ganda kalo lagi bahas rokok.

Perusahan Rokok Membantu Perekonomian Negara

Ini nih, pembahasan yang paling saya suka. Jika dibanding dengan perusahaan-perusahaan lainnya, perusahaan rokok adalah penyumbang pajak terbesar bagi negara, gimana nggak, mereka kan pajaknya nggak kayak perusahan lain, pakek cukai bro. Bukan kaleng-kaleng.

Selain itu, tentunya tenaga kerja yang diserap oleh perusahaan rokok sangat banyak, perputaran ekonomi makro maupun mikro komoditas rokok ini sangat besar. Kalo rokok ini digoyang, bisa goyang ekonomi bangsa ini, hehehe.... (lu kira goyang tiktok).

Belum lagi kontribusi informal pabrik rokok sama kegiatan sosial, Djarum aja nih ya,, kalo nggak campur tangan di ‘perbulu tangkisan indonesia’ mungkin bulu tangkis indonesia nggak semaju sekarang. (kita anggap maju lah ya,, dibanding sama sepak bola). Ini cuman bulu tangkis aja ya, belum yang lain-lain.

Dampak Rokok Bagi Kesehatan

Kalo bahas yang ini, kayaknya udah ngebosenin lah ya?, boring tau. Mulai dari menteri kesehatan, dokter, perawat, sampe ibu-ibu rumah tangga yang suaminya perokok udah berbusa-busa ngomongin masalah ini, kita nggak perlu bahas lah ya, tinggal baca sendiri di kemasan rokoknya.

Tapi bagi para perokok, boda amat dah, “ngerokok mati, nggak ngerokok mati, lebih baik ngerokok sampai mati”.  Kayak  gitu tuh, kata-kata yang familiar kita denger dari para perokok,

“kalo kita nggak beli rokok, ntar karyawan perusahaan rokok jadi pengangguran, mau luh nanggung biaya hidupnya?, mau luh nyariin dia kerja?, wong sekarang cari kerja aja susahnya setengah mati, jangan nambah-nambah masalah deh lu!”.

“kalo kita nggak beli rokok, berapa distributor yang gulung tikar, pedagang-pedagang kecil gimana?, lu mau nanggung hidup mereka?”

“Para petani tembakau gimana?, asal lu tau, mayoritas penduduk indonesia itu berprofesi sebagai petani, dan sebagian diantaranya adalah petani tembakau, katanya mau bela petani, malah kalo lu suruh kita berhenti merokok, yang ada lu membuat mereka rugi!”.

“masalah kesehatan?. Bodo amat lah, kan kita juga udah bayar pajak. Di 2019 aja pajak rokok sampai 88,9 T, itu baru pajaknya aja loh ya, belum yang lain-lain. Jadi nggak usah sok suci deh lo, sok-sok peduli sama kesehatan gue, tubuh, tubuh gue”. Kan kalo udah kayak gini ambyar.

Lingkaran Setan

Namanya juga lingkaran setan, nggak bakal ada ujungnya. Bisa aja kita bilang “suruh petani tanam komoditas lain aja, suruh pekerja di pabrik rokok kerja yang lain aja, suruh penjual rokok, jual barang yang lain aja”. Nggak semudah itu ferguso !!!.

Kalo bisa kayak gitu mah, pasti udah dilakuin dari dulu sama pemerintah, atau gimana kalo kita suruh ganti tembakau pakai ganja aja, kan katanya ganja lebih sehat dari tembakau. (Ini cuman becanda lho ya, janagan dilaporin ke BNN).

Masalah ‘per-rokok-an indonesia’  nggak semudah move on saat ditinggal pas lagi sayang-sayangnya bro.. (walau nggak mudah sih). Tapi, masih lebih rumit masalah rokok ini bro. Antar variabel, udah saling berkaitan erat satu sama lain, dan nggak bisa dipisahain, kayak lu sama doi, iyya, lu. Hehe

Jadi, solusinya adalah.... eh,, kok saya bahas solusi sih, itu kan bukan urusan saya, saya juga bukan siapa-siapa. Belum tentu juga solusi dari saya ini bener. Wkwkwk. Ambyar.. !!!

AWAS!! BAHAYA!! BANYAK PENGANUT FAHAM TEORI KONSPIRASI RADIKAL

AWAS!! BAHAYA!! BANYAK PENGANUT FAHAM TEORI KONSPIRASI RADIKAL - Sebagai seorang penganut agama islam, rasa-rasanya istilah ‘faham radikal’ sudah bukan hal asing lagi bagi kami. Bagaimana tidak, hampir tiap kali ada kasus-kasus penting yang harusnya muncul dimedia arus utama, pasti tertutupi beritanya sama berita radikalisme.

Tiap ada tokoh yang vokal mengkritisi pemerintah, pasti sering kali dikaitkan dengan  kelompok berfaham radikal. Bagaimana itu nggak bikin kita jadi familiar banget sama istilah tersebut.

Jika dikaitkan dengan penganut teori konspirasi, rasa-rasanya tidak jauh berbeda, bukan soal tuduh-menuduhnya lho ini, ini soal keberadaan orang-orang berfaham radikal, dalam sekte penganut teori konspirasi.




Gara-gara keberadaan orang-orang atau kelompok-kelompok berfaham konspirasi radikal ini, banyak penganut teori lainnya juga ikut kena imbas. Padahal nggak semua penganut teori konspirasi itu berfaham radikal, ada juga kok yang ‘berfaham moderat’.

Perlu diketahui, faham teori konspirasi itu, banyak sekali mazhabmya, ada yang bermazhab bumi datar, vaksin itu nggak baik, elit global penguasa dunia, new world order, iluminati,  corona itu buatan laboratorium, sampai yang agama adalah konspirasi, dan lain-lain.

Di dalam satu mazhab juga, banyak sekali percabangannya, misalkan nih, dalam mazhab ‘corona itu buatan laboratorium’, ada aliran yang mengatakan itu buatan china, ada yang mengatakan itu buatan amerika, ada juga yang mengatakan itu buatan wahyudi.

Jadi sebagai salah seorang penganut faham konspirasi yang baik, saya merasa punya kewajiban untuk meluruskan semua ini, biar semua  nggak salah faham.

Seperti hal nya penganut faham-faham yang lain, faham konspirasi juga punya banyak ‘ulama rujukan’ (ulama dalam artian tokoh yang didengerin ini lho ya,,, bukan yang lain), Seperti Bos Darling sebagai imam mazhabnya bumi datar, Yong lex sebagai imam mazhabnya new world order, vasco sebagai imam mazhabnya iluminati, dan lain-lain.

Dan yang sekarang lagi rame, adalah mazhabnya Jernix SID, yang mengtakan ‘agama adalah konspirasi’. Mazhab ini, banayak yang mengatakan dia udah jauh melenceng dari aqidah ahlu-faham konspirasi wal jama’ah yang baik dan benar.

Gara-gara kesesatan mazhab ini, banyak mazhab-mazhab faham konspirasi lainnya kena imbas. Orang-orang ‘non konspirasi’ yang sebelumnya mulai tertarik dengan faham konspirasi gara-gara covid-19, hanya karena satu faham ini, malah jadi ambyar, dan sebaliknya malah makin nggak respek sama faham konspirasi secara umum.

Bahkan orang-orang ‘non konspirasi’ yang nggak tau apa-apa, ada mengatakan Teori konspirasi amat menarik bagi mereka yang kesulitan memahami dunia yang rumit dan tidak memiliki kesabaran untuk penjelasan yang tak dramatis. Teori konspirasi juga menarik untuk dorongan narsisme yang kuat, ada orang orang yang Lebih memilih percaya pada omong kosong yang rumit, dari pada menerima bahwa ada hal-hal yang berada di luar pengetahuannya”.

Haduuh... jadi ambyar kan kalo udah kayak gini, orang-orang yang belum faham malah menggeneralisir begitu. Yang saya takutkan, bisa-bisa nanti orang-orang pada ‘konspirasimophbia’. Dan bisa menyebabkan orang-orang yang percaya faham konspirasi jadi dikucilkan di masyarakat. Kan ini bahaya...

Makanya saya lama-lama jadi mikir, jangan-jangan mazhabnya Jernix ini, sengaja dibuat oleh orang-orang yang nggak suka sama faham konspirasi, gara-gara dia merasa dirugikan karena keberadaan faham konspirasi.

Jangan-jangan Jernix antek-antek wahyudi lagi, aduh... makin ngeri aja.

Terakhir nih, pesan saya buat teman-teman yang berfaham ‘non konspirasi’, kalian jangan menggeneralisir. Bisa aja ada orang yang meyakini ada elit global yang merencanakan new world order, tapi dia tidak meyakini bumi datar, bisa juga sebaliknya, dia meyakini bumi itu datar dan nggak percaya ada elit global.

Yang jelas, penganut teori konspirasi itu, nggak sesederhana itu. Namanya juga faham teori manusia, nggak ada yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik Allah.



Jumat, 15 Mei 2020

BUAT BROTHER FILLAH KU

Sumber : https://dribbble.com/shots/7045754-Brother-s-fillah


Jujur aja, belakangan ini saya agak jengkel liat orang-orang yang benci amat ama Islam, terlebih sama orang-orang yang salah faham dan menggeneralisir. Religius dikit dibilang ‘mabok agama’ kita share konten-konten islami langsung dicap ‘sok suci, onta arab’ lah dia kira dia apa kali. Yang paling naas lagi udah religius plus ngeritik pemerintah, wah.... langsung dah dicap ‘kadrun’ ama buzzer-buzzer pemerintah.

Disisi lain, saya juga ilfil banget liat bro-bro fillah yang mudah sekali terprovokasi, sama berita-berita sampah yang judul nggak sesuai sama isi. Dikit-dikit penista agama, dikit-dikit gembong PKI lu... ah sudah lah.

Buat brother fillah yang ngaku sebagai pengikut Islam Progresif. Lu juga!, ngakunya sebagai orang yang open minded, ngakunya jadi muslim progresif, lu progresif dibidang sains-teknologi dong, bukan malah progresif dibidang aqidah dan iman. Aqidah dan iman itu suatu yang nggak bisa diganggu gugat dalam Islam, sifatnya udah pasti. Sebagai orang yang udah mengikrarkan syahadat itu  adalah suatu perkara yang mutlak.

Ngakunya islam progresif, malah progresif ama perkara iman dan aqidah, yang ada lu bukan progresif, lu malah liberal,salah jalan, alias sesat. Kan banyak tuh, belajar tauhid malah malah ngaku jadi tuhan, ngakunya progresif malah nggak sesuai sama prinsip al qur’an dan sunnah, ngaku open minded malah ngebolehin sesuatu yang udah jelas-jelas nggak dibolehin dalam al qur’an.

Tak lupa juga saya sampaikan jazakallah hu khoron kastir, untuk brother-brother fillah yang ngaku sebagi ‘pembela islam’, tapi sebagai brother fillah saya hanya bisa mengingatkan, antum harus kontrol diri dong, jangan sampe kebablasan. Sebagai pribadi yang tumbuh dilingkungan konservatif islam sejak kecil, saya tahu betul gimana perasaan antum melihat fenomena akhir-akhir ini yang cenderung agak ‘memancing emosi banget’, ya iyyalah,, wong kita dari kecil diajar sama bapak sama ibu sama Pak Ustadz kalo miras itu haram, judi itu haram, tiba-tiba karena kita melihat di lingkungan lain miras dilegalkan, judi dilegalkan ya marah kita.

Sejak kecil kita selalu dididik bahwa agama itu bukan bahan candaan, Ulama itu harus dihormati, sekarang dengan adanya medsos orang-orang dengan begitu mudahnya menghina islam, merendahkan Nabi dan para Ulama, ya wajarlah kita marah. Ini bukan sok suci lho ya,,, ini soal hati dan didikan kita dari kecil.

Buat kalian yang sering ngerendahin tipe brother saya satu ini, coba deh intropeksi diri kalian, “kok dia cepat tersinggung ya, kok saya nggak?”, “apa karena mereka yang sumbu pendek, atau mungkin saya yang udah terlalu jauh dengan agama, sampai hati saya biasa aja, ngeliat orang-orang sekarang yang begitu mudahnya menghina agama?”.

Terakhir nih ya,,, buat 2 brother fillah ku yang sering konfrontasi di medsos. Buat antum yang anti ama ritual yang ‘katanya nggak ada dalilnya’, ya wong fahami dulu toh, teori sosial jama’ah. Pelan-pelan caranya, dakwhnya jangan dipaksakan. Kan kita semua tau, dulu wali songo pakek apa dakwahnya, pakek kebudayaan toh.

Itu juga kan kebudayaan nusantara zaman dahulu. Ya wajarlah, kalo masih rada-rada mirip sama budaya lokal. Ya masih mending toh, daripada nyembah pohon. Hehehe.

Buat brother fillah yang merasa NKRI banget, karena merasa paling ngikutin tradisi lokal, ya antum juga jangan kebablasa dong, malah ada tuh yang sampe banding-banding konde ama hijab. Hadduhhh... kan ambyar.

Yang terakhir nih,,, ini bener-bener yang terakhir ya.. ntuk brother fillah yang bernafsu bikin negara islam, hehehe.... kita sama-sama perbaiki diri dulu lah, jangan kejauhan, buang sampah aja kita masih sembarangan. Padahal kebersihan itu sebagian dari iman toh?, dakwahnya fokus disana aja dulu.



Artikel Populer

INDONESIA TANPA PACARAN, GERAKAN PEMERSATU AKTIVIS DAKWAH

- INDONESIA TANPA PACARAN, GERAKAN PEMERSATU AKTIVIS DAKWAH Gerakan #IndonesiaTanpaPacaran atau ITP adalah suatu gerakan di media social y...