Tampilkan postingan dengan label Islamic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islamic. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Januari 2022

Bijak Menempatkan Diri

Pagi-pagi saat mau memulai aktivitas KKN, tak sengaja membuka Tranding Twitter Indonesia. Tiba-tiba terkagetkan dengan berita tentang Pembakaran Masjid di Bagik Nyaka Lombok Timur yang memuncaki tranding topic Indonesia.


Tidak ingin mengomentari siapa yang benar dan siapa yang salah, saya hanya ingin bercerita tentang Perjalanan hidup saya tentang Perbedaan Manhaj dalam berislam.

Sekarang diusia yang masih ke-21 rasa-rasanya terlalu senonoh untuk berkomentar jauh tentang kasus pelik yang viral akhir-akhir ini, tapi sedikit sejarah hidup saya mungkin bisa diambil secuil pelajarannya tentang menyikapai perbedaan.

Saya lahir di Desa Batuyang, Desa yang dari dulu Suka Puasa dan Lebaran lebih dulu dari ketetapan mentri agama, kalo sholat subuh di Masjid tidak qunut, kalo tarawih 8 rakaat. Artinya dari kecil lingkungan kami di mesjid kental sekali dengan kultur Muhammadiyah, salah satu Ormas Islam tertua dan terbesar di Indonesia.

Saat mau masuk SMP, awalnya dulu mau masuk di Pondok Pesantren Nurul Hakim di Kediri Lombok Barat, sempat mengikuti orientasi satu minggu, tapi tidak jadi karena sakit.
Akhirnya masuk di salah satu Madras Tsanawiyah di Wanasaba Lombok Timur.
MTs Nahdlatus Saufiyah Wanasaba, sekolah yang awalnya tidak pernah saya niatkan tapi takdir ternyata berkata lain. Waktu 3 tahun ternyata membuat saya bangga dan cinta terhadap sekolah MTs saya dulu.

Nahdlatul Saufiyah adalah salah satu ormas Islam yang berkultur sangat NU, bahkan didepan gerbang sekolah kami ada logo NU yang sangat besar terpampang.
Ketika saya MTs dulu tentu banyak sekali kultur shock yang saya alamai, seperti diajak Ziarah makam dll. Yang intinya sangat NU sekali secara kultur.
Ada banyak sekali hal-hal baru, sudut pandang baru, yang saya dapatkan dan tentunya belum saya dapatkan sebelumnya.

Saat SMA, Saya memilih untuk melanjutkan di SMA 1 Aikmel, sekolah negeri yang rasa pesantren kata orang.
Bukan hanya karena Sekolah kami dulu dekat dengan Pondok Pesantren, tapi aturan-aturan yang dibuat oleh guru2 kami dulu memang sangat MasyaAllah, seperi siswi perempuan harus memakai hijab yang menutup dada, kemudin baju harus menutup bokong, tidak boleh memasukkan baju.
Untuk siswa bahkan ketika sholat dzuhur berjamaah, ketika kita lupa bawa peci, kita bisa dihukum lari  keliling lapangan.
Betapa islaminya kultur sekolah kami dulu.
Disinilah awal mula saya banyak bergalu dengan teman2 dengan latar belakang pemahaman agama yang berbeda. Ada yang nggk bolehin ziarah makam, ada yang membolehkan, ada yang tidak membolehkan zikir di rumah orang yang meninggal ada yang tidak, dan masih banyak lagi hal-hal yang berbeda dan sudut pandang yang berbeda yang saya temukan.

Aikmel, khususnya Bagik nyaka tentu sudah sama2 kita ketahui merupakan daerah pusat Pondok Pesantren Salafi di Lombok Timur.

Beranjak di masa kuliah, saat baru masuk di Unram Alhamdulillah saya dipertemukan dengan orang-orang di Mt An-Nahl Fakultas Peternakan, yang kemudian menjadi jalan pembukaan bertemu dengan teman-teman di Lembaga Dakwah Kampus. Tentunya disini lingkup interaksi dengan teman2 dengan berbagai macam latar belakang dan pemahaman keagamaan tambah banyak, tapi Alhamdulillah kami bisa disatukan dengan pemahaman yang sama tentang pentingnya persatuan umat. Yang oleh orang diidentifikasi sebagai gerakan Tarbiyah.

Berbagai isu miring tentu silih berganti menghampiri, di Cap gerakan eksklusif, di framing sebagai penyebab Unram dikatakan Kampus Radikal, diisukan sebagai gerakan multinasional, radikal, berideologi Khilafah dll. Yang tentu sangat-sangat menyesakkan.

Dari semua pemahaman, dan gerkan yang berbeda-beda tersebut, tentu saja bukan kapasitas saya untuk menilai mana yang lebih baik, karena memang itu semua bukan untuk dibandingkan, melainkan untuk difahami sudut pandangnya.

Ketika duduk beraama keluarga atau teman yang bermanhaj Salafi tentu saya akan menghindari cerita tentang kisah-kisah heroik saat turun kejalam bersama teman-teman sesama Mahasiswa, karena dikajian Salafi Demo hukumnya haram, walau itu aksi damai sekalipun. Saya juga tentu menghindari bercerita kalo saya misal habis menghadiri acara Maulidan karena itu dihukumi bid'ah.

Ketika duduk bersama teman-teman yang kulturnya NU tentu saya juga mengindari bercerita kalo sebagian keluarga saya bermanhaj salafi, saya juga tentu tidak akan menghukumi bid'ah dzikiran atau maulidan, atau bahkan sekedar bercerita kalo saya juga sering ikut kajian di Masjid Lawata Mataram pun saya hindari, karena tentu mereka akan merasa beda dengan saya.

Poinnya adalah bijak menempatkan diri, bijak menyampaikan sesuatu, bijak menanggapi suatu isu.


Jumat, 10 Desember 2021

BAGAIMANA ISLAM MEMULIAKAN PEREMPUAN

 BAGAIMANA ISLAM MEMULIAKAN PEREMPUAN - Sebenarnya apa yang kalian perjuangkan hari ini, sudah dilakukan 1400 tahun yang lalu oleh Rasulullah Muhammad SAW.

Gambar Ilustrator


Di zaman itu, yang terjadi bahkan tidak hanya diskriminasi gender, bahkan terjadi Genosida Gender. Di zaman itu, bahkan melahirkan anak perempuan dianggap sebagai sebuah aib. lalu banyak anak-anak tak berdosa dibunuh begitu saja.

Lalu Islam datang dengan semangat memberi rahmat bagi semesta alam, islam datang bag air penyejuk dahaga jiwa yang haus akan kebenaran.

Islam datang bahkan tak hanya membebaskan, islam datang untuk memuliakan. Al-quran bahkan punya surah tersendiri tentang An-nisa sedang hal yang sama tidak untuk laki-laki.

Sebenarnya kesetaraan yang kalian perjuangkan hari ini, satu langkah dibelakang konsep yang ada dalam islam. Islam bahkan menamainya "Keserasian".

Sejatinya Laki-laki dan Perempuan tidak untuk di banding-bandingkan, atau di buat sama dalam semua hal, karena sesungguhnya itu merupakan 2 hal yang saling melengkapi, saling menutupi kekurangan masing-masing, saling berkolaborasi untuk menciptakan peradaban madani.

Laksana Nahar (siang) dan lail (malam), Sama' (langit) dan Ardh (bumi), senantiasa disandingkan dalam Al-quran, bukan untuk dibanding-bandingkan, tapi untuk saling melengkapi.

Lihatlah, betapa sempurnanya agama islam ini, ia hadir bagai mentari dalam kegelapan ego manusia. Memberi jalan out of the box, yang mungkin sebelum tak pernah terpikirkan.

Senin, 18 Mei 2020

Gelar “Haji” Bagi Orang Yang Sudah Melaksanakan Ibadah Haji Itu ‘Norak’!!


 Bagi orang Lombok, panggilan ‘Amaq’ atau ‘Bapak’ untuk memanggil seorang ayah, bukan hanya soal komparasi antara bahasa sasak dan bahasa indonesia, melainkan sebuah gambaran ‘status sosial’ suatu keluarga didalam masyarakat.

( gambar hanya pemanis )

Biasanya, ‘Amaq’ adalah panggilan seorang anak kepada ayahnya dari kasta petani dan buruh. Sedangkan panggilan ‘Bapak’ biasanya digunakan oleh kalangan orang-orang terpandang, seperti para pegawai pemerintah, atau tokoh masyarakat.

Kaitannya dengan penggunaan gelar ‘Haji’, (bagi orang yang sudah melaksanakan ibadah haji), jika seorang ‘Amaq’ sudah berhaji, dan resmi menyandang gelar haji, maka secara otomatis, dia yang sebelumnya hanyalah seorang ‘amaq’, resmi juga menjadi ‘bapak’.  Namanya bukan “amaq tuan” (amaq haji) , tapi “bapak tuan” alias "bapak haji". Ini secara khusus, untuk orang lombok lho ya,, nggak tau deh kalo daerah lain.

Bagi sebagian masyarakat, penambahan gelar ‘Haji’ dibelakang nama dan perubahan panggilan dari ‘amaq’ menjadi ‘bapak’, merupakan sesuatu yang sangat sakral. Kalo dia sudah haji, lalu kita panggil dia ‘amaq’ bisa-bisa dia nggak mau noleh, ya,, namanya juga udah mendarah daging. Seolah-olah ibadah haji Bukan lagi murni untuk mencari haji yang mabrur tapi juga merembet pada ritual penambahan nama dan peningkatan status sosial. Kan jadi ambyar tuh...

Gelar Haji Merupakan Siasat Penjajah Belanda Untuk Menandai Tokoh Yang Berpotensi Menggoyah Pemerintahan Kolonial

“Hah,,, baru tau saya?”
Bagi orang-orang yang berfikiran sempit dan malas membaca, pasti kaget kalo kita kasih tau gelar haji itu sebenarnya cuman siasat Penjajah Belanda untuk menandai tokoh-tokoh yang berpotensi menggoyah pemerintahan kolonial.

Sejak zaman dahulu pemerintah kolonial belanda, telah menyadari kekuatan yang dimiliki umat islam begitu besar. Jika itu semua dapat digerakkan dengan maksimal, habislah kekuasaan mereka.

Intinya, yang mereka harus matikan adalah para tokoh-tokoh masyarakatnya (orang-orang yang didengar oleh masyarakat). Karena kalo mereka tidak diawasi, mereka berpotensi menggerakkan masa, dan mengganggu stabilitas kemanan negara pada masa itu.

Karena kebanyakan orang-orang yang mampu berhaji pada masa itu adalah mereka yang punya potensi seperti diatas, maka oleh sebab itulah, sebagai penanda, mereka di beri gelar ‘Haji’ dibelkang namanya, supaya mereka bisa mudah dipantau.

Kalo tiba-tiba ada suatu kelompok melakukan pemberontakan, tinggal disingkirkan tokoh masyaraknya yang sudah berhaji, maka secara otomatis, habis lah kelompok itu, karena tokohnya sudah dihentikan.

Gelar ‘Haji’ Itu Bid’ah (eh, jangan sensi dulu.....)

Penambahan gelar ‘haji’ bagi orang yang telah melaksanakan ibadah haji adalah suatu hal yang mengada-ada dalam agama, karena tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, tidak pernah dicontohkan oleh Para Sahabat nabi, Tidak pernah diajarkan oleh para imam mazhab, bahkan, tidak pernah diajarkan oleh wali songo, (yang notabennya merupakan ulama yang menyebarkan agama islam di Nusantara). Sehngga, bisa dibilang ini adalah perkara yang diada-adakan, alias ‘bid’ah’.

Bahkan, walaupun ditinjau dari aspek budaya, ini juga bukan budaya indonesia. Ini sebenarnya, warisan penjajah kolonial!. Jadi ini bukan budaya indonesia !. ini budaya barat !. mau dibilang ‘pengikut budaya barat?’

Padahal kalo dipikir-pikir, nggak ada tuh ketentuan menambahkan gelar dibelakang nama jika seseorang pernah melaksanakan suatu ibadah tertentu.

Hanya karena bapak A sudah melaksanakan ibadah haji, lantas dia diberi gelar haji dibelakang namanya. Berubahlah ia jadi “H. A” (Haji A). Sedangkan ibadah-ibadah yang lain, nggak kyak gitu tuh.

Misalkan nih, saya sudah melaksanakan ibadah sholat, nggak ada tuh yang manggil saya “S. Aziz” (Sholat Aziz), saya sudah melaksanakan Ibadah Puasa, nggak ada tuh yang manggil saya “P. Aziz” (Puasa Aziz). Wkwkwk,,, kan jadi lucu

Oke deh kalo ada yang bilang “kan itu khusus untuk ibadah haji, karena perintahnya sekali seumur hidup”. lah justru kalo pola pikirnya seperti itu, harusnya ibadah-ibadah yang lebih wajib untuk dilaksankan, lebih diperhatikan.

“kan itu khusus untuk ibadah haji, karena biayanya besar” . lah lu kira biaya zakat juga nggak besar, biaya jihad nggak besar?. Orang yang berjihad aja, kita sebut “Syuhada” jika dia telah gugur dimedan juang, itupun nggak di tambahin tuh, gelar “S” dibelakang nama dibatu nisannya.

Galar Haji Hanya Ada di Indonesia

Orang Arab Saudi aja, yang rumahnya depan Ka’bah, nggak ada tuh yang dipanggil Pak Haji, padahal mereka bisa haji tiap tahun, kalo mereka mau. Muhammad bin Salman (raja saudi) aja nggak ada tuh yang manggil beliau H. Muhammad bin Salman.

Paul Pogba aja, (orang perancis, pemain bola dari club Manchester United) yang sering melaksanakan ibadah haji, nggak ada tuh tambahan gelar Haji dinama yang ada di Jersinya. 
( source : jawapos.com )

Padahal kalo seandainya ditambahin, terus jadi “H. Pogba”  wah,,, keren banget kayaknya, bisa jadi headline berita internasional, “sudah melaksanakan ibadah haji, nama di jersi Paul Pogba di tambahkan H”. wkwkwk,, ambyar.. !

Tulisan Ini Bukan Sentimen

“katakanlah kebenaran, walaupun itu pahit”
Sebagai penutup, perlu rasanya untuk saya sampaikan, bahwa tulisan ini semata-mata saya buat sebagai media menyampaikan keresahan saja, bukan didasarkan sentimen, atau kebencian kepada ‘Bapak Haji atau Ibu Hajjah’. Karena seringkali dalam banyak penglaman, seolah-olah bagi orang yang telah melaksanakan ibadah haji, lebih mengutamakan kenaikan status sosial karena gelar hajinya, daripada kenaikan ketakwaannya kepada Allah SWT. Kan nanti takutnya ibadah yang sudah dilaksankan dengan banyak pengorbanan harta dan tenaga jatuh pada ria’ (ngeri kan?).

Kan sekarang, yang banyak jadi jargon kampanye di pemiilu itu ‘nasionalis-religius’  tuh, maka oleh sebab itulah kita tunjukkan nasionalisme kita dengan menjunjung budaya indonesia, bukan malah melestarikan budaya pemerintah kolonial belanda. Kita sama-sama tunjukkan religius kita dengan mengikuti ketentuan yang sesuai dengan perintah Nabi dan para Ulama.




Sabtu, 16 Mei 2020

PUISI "IBUKU IBU INDONESIA"

( Source : http://www.baktinusa.id/peran-ibu-sebagai-pencetak-generasi-bangsa/ )




Ibuku ibu indonesia
Lahir di indonesia
Besar di indonesia
Dan memang asli orang indonesia J

Ibuku ibu indonesia
Seorang muslimah yang taat
Dan sangat cinta indonesia
Buktinya, ia begitu bangga menjadi orang indonesia

Ibuku ibu indonesia
Baginya islam bukanlah penghalang untuk mencinta indonesia
Justru karena ia islam,
Ia sangat cinta indonesia

Ibuku ibu indonesia
Ia memang bukan budayawan
Hanya seorang pedagang
Yang sering ikut pengajian

Ibuku ibu indonesia
Memang tak pernah mengajarkanku nyanyi-nyanyian
Tapi mengajarkanku membaca al-qur’an
ia yang terdepan

ibuku ibu indonesia
dulu saat ku ikut lomba azan maulidan
ia selalu setia mendengarkan
meski suaraku tak begitu indah dan menawan

ibuku ibu indonesia
ia memang tak tau tari-tarian
tapi bekerja untuk keluarga
ia anggap kewajiban

ibuku ibu indonesia
memang tak begitu paham syariat islam
tapi baginya menista islam
adalah kehinaan

ibuku ibu indonesia
hatinya lembut
hijabnya anggun
tak pernah sedikitpun ia menghina sanggul
20 tahun yang lalu, saat ia menikah iapun memakai sanggul J

Dulu saat adikku minta dipakaikan sanggul
Ia pakaikan dengan teliti betul betul
Kini saat adikku minta dibelikan cadar
Iapun belikan dengan senyum penuh syukur

TIPS AGAR TIDAK NGANTUK SAAT SHOLAT TARAWIH

TIPS AGAR TIDAK NGANTUK SAAT SHOLAT TARAWIH - Salah satu ibadah yang paling utama di bulan ramadhan adalah sholat tarawih. Sholat tarawih adalah sholat sunnat yang dikerjakan setelah sholat isya, dan hanya dikerjakan pada bulan ramadhan saja. Sholat tarwih biasanya dikerjakan secara berjamaah di mesjid – mesjid maupun di musholla. Karena dikerjakan pada waktu malam tak jarang kita sering mengantuk saat menjalankannya, akibatnya kita kurang maksimal dalam menjalankan ibadah ini. Oleh sebab itu berikut beberapa tips menghindari ngantuk saat sholat tarawih : 
( Source : https://muslim.okezone.com/read/2019/05/07/330/2052650/hikmah-dan-keajaiban-salat-tarawih )

1. Usahakan untuk istirahat disiang harinya

Tak perlu tidur sepanjang hari, hanya saja cobalah untuk luangkan waktu anda sejenak untuk beristirahat pada siang harinya. Alokasikan waktu anda setidaknya 2 jam atau 3 jam untuk beristirahat. Biasanya waktu yang paling tepat adalah saat siang hari pukul 2 sampai pukul 4 sore. Tak perlu banyak – banyak, yang anda butuhkan disini adalah kualitasnya bukan lama waktunya.

Dibulan puasa memang banyak orang menghabiskan waktunya untuk bermalas – malasan dan tidur sepanjang hari. Bukannya menjadi bugar saat malamnya justru makin ngantuk. Saat menjalankan ibadah puasa kita tidak dianjurkan untuk bermalas – malasan, kita tidak boleh lemas, dan jangan sampai ibadah puasa yang sedang kita jalani menjadi alasan untuk kita tidak bekerja seperti hari – hari biasanya.

2. Luangkan waktu untuk berolahraga
Olahraga yang anda butuhkan saat menjalankan ibadah puasa memang tidak harus seperti pada bulan lainnya. Karena tentu kita juga tidak boleh terlalu boros dalam menggunakan kita sepanjang hari. Cobalah untuk jalan – jalan santai dipagi hari, nikmati suasana pagi setelah sholat subuh, hirup udara segar, atau coba untuk mengerjakan pekerjaan rumah seperti bersih – bersih kamar, menyapu, mencuci baju atau yang lainnya. Yang penting anda kita bisa berkeringat dan terus bersemangat dalam menjalankan ibadah puasa. Hal ini sangat mempengaruhi keadaan tubuh di waktu malamnya, InsyaAllah kita tidak nganruk saat sholat tarawih.

3. Jangan sampai kekenyangan saat berbuka

Setelah seharian menahan lapar dan dahaga, waktu berbuka puasapun telah tiba, saatnya merayakan kemenangan, dan apa yang telah diharamkanpun sudah dihalalkan. Acara balas dendampun segera dimulai. Apa yang dilihat semuanya mau dimakan, sampai – sampai kenyangnya minta ampun. Hehe..

Terlalu kenyang adalah salah satu penyebab tubuh menjadi malas dan menagntuk. Cobalah untuk makan makanan yang tidak terlalu berat saat berbuka. Kalo bisa makan malamnya setelah pulang sholat tarawih.

4. Hindari mengkonsumsi es berlebihan saat berbuka

Mengkonsumsi makanan atau minuman yang dingin secara berlebihan membuat perut terasa berat dan menyebabkan tubuh susah untuk diajak aktif. Ujung – ujungnya menyebabkan ngantuk. Saat berbuka puasa memang paling enak mengkonsumsi makanan atau minuman yang dingin, karena tentu bisa menyegarkan setelah seharian penuh menahan haus dan lapar.

Namun hal itu tanpa kita sadar sangat berpengaruh terhadap kondisi tubuh kita pada malam harinya. Boleh saja mengkonsumsi es pada saat berbuka puasa, namun ingatlah jangan terlalu banyak. Bukankah Allah juga tidak suka pada hal – hal yang berlebihan. Coba jalankan perintah Allah tersebut, insyaAllah Allah akan memudahkan jalan-Nya. Amien .

5. Meningkatkan kualitas tidur

Tidur normal untuk orang dewasa biasanya berkisar setidaknya 6 sampai 8 jam dalam sehari . Namun pada bulan Ramadhan kita sangat dianjurkan untuk semakin memperbanyak ibadah kepada Allah SWT. Karena pada bulan tersebut, amal kebaikan manusia akan dilibat gandakan pahalanya. Bahkan ada satu malam di bulan ramadhan yang nilainya setara dengan seribu bulan. Maka oleh karena itu, kita jangan sampai melewatkan hal tersebut. Mari kita senantiasa berlomba – lomba dalam beribadah.

Dilain sisi kita harus selalu memperhatikan kesehatan kita agar kondisi tubuh kita bisa menunjang untuk menjalankan ibadah – ibadah pada bulan ramadhan. Saat akan tidur biasakan berwudlhu terlebih dahulu, mencuci muka adalah salah satu tips agar tidur kita lebih berkualitas. Rasullullah tidak mungkin menganjurkan kepada kita kalo itu bukan hal yang benar – benar bermanfat untuk kita sendiri. Saat tidur cobalah untuk menghindari kontak langsung dengan benda – benda elektronik seperti Hp,kamera, ataupun menonton tv, karena hal tersebut mempengaruhi kualitas tidur anda.

Jika kualitas tidur anda bagus, insyaAllah kondisi tubuh anda akan selalu fit dalam menjalankan ibadah puasa. Dan ketika kondisi tubuh sudah fit maka semua ibadahpun akan maksimal untuk dijalani. Termasuk saat mengerjakan sholat tarawih.

Jumat, 15 Mei 2020

BUAT BROTHER FILLAH KU

Sumber : https://dribbble.com/shots/7045754-Brother-s-fillah


Jujur aja, belakangan ini saya agak jengkel liat orang-orang yang benci amat ama Islam, terlebih sama orang-orang yang salah faham dan menggeneralisir. Religius dikit dibilang ‘mabok agama’ kita share konten-konten islami langsung dicap ‘sok suci, onta arab’ lah dia kira dia apa kali. Yang paling naas lagi udah religius plus ngeritik pemerintah, wah.... langsung dah dicap ‘kadrun’ ama buzzer-buzzer pemerintah.

Disisi lain, saya juga ilfil banget liat bro-bro fillah yang mudah sekali terprovokasi, sama berita-berita sampah yang judul nggak sesuai sama isi. Dikit-dikit penista agama, dikit-dikit gembong PKI lu... ah sudah lah.

Buat brother fillah yang ngaku sebagai pengikut Islam Progresif. Lu juga!, ngakunya sebagai orang yang open minded, ngakunya jadi muslim progresif, lu progresif dibidang sains-teknologi dong, bukan malah progresif dibidang aqidah dan iman. Aqidah dan iman itu suatu yang nggak bisa diganggu gugat dalam Islam, sifatnya udah pasti. Sebagai orang yang udah mengikrarkan syahadat itu  adalah suatu perkara yang mutlak.

Ngakunya islam progresif, malah progresif ama perkara iman dan aqidah, yang ada lu bukan progresif, lu malah liberal,salah jalan, alias sesat. Kan banyak tuh, belajar tauhid malah malah ngaku jadi tuhan, ngakunya progresif malah nggak sesuai sama prinsip al qur’an dan sunnah, ngaku open minded malah ngebolehin sesuatu yang udah jelas-jelas nggak dibolehin dalam al qur’an.

Tak lupa juga saya sampaikan jazakallah hu khoron kastir, untuk brother-brother fillah yang ngaku sebagi ‘pembela islam’, tapi sebagai brother fillah saya hanya bisa mengingatkan, antum harus kontrol diri dong, jangan sampe kebablasan. Sebagai pribadi yang tumbuh dilingkungan konservatif islam sejak kecil, saya tahu betul gimana perasaan antum melihat fenomena akhir-akhir ini yang cenderung agak ‘memancing emosi banget’, ya iyyalah,, wong kita dari kecil diajar sama bapak sama ibu sama Pak Ustadz kalo miras itu haram, judi itu haram, tiba-tiba karena kita melihat di lingkungan lain miras dilegalkan, judi dilegalkan ya marah kita.

Sejak kecil kita selalu dididik bahwa agama itu bukan bahan candaan, Ulama itu harus dihormati, sekarang dengan adanya medsos orang-orang dengan begitu mudahnya menghina islam, merendahkan Nabi dan para Ulama, ya wajarlah kita marah. Ini bukan sok suci lho ya,,, ini soal hati dan didikan kita dari kecil.

Buat kalian yang sering ngerendahin tipe brother saya satu ini, coba deh intropeksi diri kalian, “kok dia cepat tersinggung ya, kok saya nggak?”, “apa karena mereka yang sumbu pendek, atau mungkin saya yang udah terlalu jauh dengan agama, sampai hati saya biasa aja, ngeliat orang-orang sekarang yang begitu mudahnya menghina agama?”.

Terakhir nih ya,,, buat 2 brother fillah ku yang sering konfrontasi di medsos. Buat antum yang anti ama ritual yang ‘katanya nggak ada dalilnya’, ya wong fahami dulu toh, teori sosial jama’ah. Pelan-pelan caranya, dakwhnya jangan dipaksakan. Kan kita semua tau, dulu wali songo pakek apa dakwahnya, pakek kebudayaan toh.

Itu juga kan kebudayaan nusantara zaman dahulu. Ya wajarlah, kalo masih rada-rada mirip sama budaya lokal. Ya masih mending toh, daripada nyembah pohon. Hehehe.

Buat brother fillah yang merasa NKRI banget, karena merasa paling ngikutin tradisi lokal, ya antum juga jangan kebablasa dong, malah ada tuh yang sampe banding-banding konde ama hijab. Hadduhhh... kan ambyar.

Yang terakhir nih,,, ini bener-bener yang terakhir ya.. ntuk brother fillah yang bernafsu bikin negara islam, hehehe.... kita sama-sama perbaiki diri dulu lah, jangan kejauhan, buang sampah aja kita masih sembarangan. Padahal kebersihan itu sebagian dari iman toh?, dakwahnya fokus disana aja dulu.



Minggu, 10 Maret 2019

INDONESIA TANPA PACARAN, GERAKAN PEMERSATU AKTIVIS DAKWAH

- INDONESIA TANPA PACARAN, GERAKAN PEMERSATU AKTIVIS DAKWAH

Gerakan #IndonesiaTanpaPacaran atau ITP adalah suatu gerakan di media social yang didirikan pada tanggal 7 September 2015 oleh Laode Munafar seorang penulis yg didasarkan pada keperihatinan beliau terhadap generasi muda Indonesia yang kian terjerumus pada pergaulan bebas yang salah satu pemicu utamanya adalah budaya Pacaran anak muda yang kian bebas dan memperihatinkan..Gerakan ini bertujuan menyadarkan generasi muda Indonesia akan bahayanya pacaran dipandang dari segi apapun. Baik dari segi agama, ekonomi, pendidikan, social dan budaya. Gerakan ini umumnya dikampanyakan di media social dan beberapa agenda lainnya seperti talkshwo atau ceramah online.

Terlepas dari pro-kontra terkait gerakan ini,menurut saya ada hal menarik yang perlu dibahas tentang gerakan Indonesia Tanpa Pacaran ini.



Ada satu pepatah yang mengatakan, “Semakin tinggi suatu pohon, semakin besar pula angin yang menimpanya” pepatah inilah  menururt saya yg menggambarkan keadaan gerakan yang di gagas oleh La Ode Munafar ini. Mulai dari tulisan di Tirto yang menuding gerakan ini adalah gerakan yang hanya memperkaya Penggagasnya dengan produk2 yang dijualnya hingga gerakan yang dituding sebagai gerakan yang menghalangi kebebasan berekspresi anak muda. Bahkan menurut kelompok yang anti terhadap gerakan ini, gerakan ini dianggap sebagai gerakan islamisasi atau mungkin lebih tepatnya disebut arabisasi Indonesia, karena sering kita dengar teman2 yang anti dengan gerakan ini menyebut pendukung gerakan ini dengan sebutan “Sobat gurun”

Namun yang hangat belakangan ini adalah tudingan dari seorang politikus muda bahwa gerakan ini adalah gerakan “Kering” dan nggk masuk akal “masa sih lu ngelarang orang buat jatuh cinta, sedangkan cinta adalah anugrah Tuhan” begitu cetusnya dalah sebuah video wawancara di salah satu akun youtube. Ia beranggapan bahwa nggk  mungkin lo menikah tanpa pacaran, karena pacaran itu cara lo buat mengenal pasangan lo.

Terlepas dari tanggapan yang kontroversial itu, mungkin ada ratusan bahkan ribuan bantahan yang dibuat oleh para aktivis Anti pacaran di media2 sosial untuk membantah anggapan itu.

Namun kali ini saya tidak ingin membahas hal itu, kali ini saya ingin mengupas bagaimana effect gerakan ini yang menurut saya sanagat menarik untuk di bahas secara khusus.

Satu efek yang sanagat jelas terlihat dari gerakan ini meski gerakan ini bukanlah gerakan politik adalah adanya kecenderungan atau bahkan sudah terjadi yakni bersatunya para aktivis dakwah dalam gerakan ini. Khususnya dimedia social, gerakan ini benar2 sanagat terasa membuat para aktivis dakwah media social bersatu dan satu suara dalam mendukung gerakan ini.

Jauh berbeda misalnya dengan gerakan lainnya di medsos, gerakan ini sanagat positif dan didukung penuh oleh para aktivis dakwah. Khususnya aktivis dakwah media social.

Tidak hanya itu, Para Ustadz kondang yang sering muncul di media sosialpun satu suara mendukung gerakan ini. Dari NU yang diwakili oleh Ustadz Abdul Somad misalnya, Atau Ustadz Adi Hidayat  dari Muhammadiyah, atau Ustadz Kahlid Basalamah dari teman2 salafy, atau bahkan Ustadz Felix siauw salah satu Ustadz yang paling banyak folowersnya di media social. Atau mungkin Ustadz Hanan Attaki yang identik dengan ustadz gaul yang sekarang sedang di gandrungi milenial.

Kalau kita bandingkan dengan isu politik misalnya, seringkali para Aktivis dakwah berbeda pendapat soal itu. Namun pada gerakan ini para aktivis dakwah begitu solid dan satu suara.

Suatu hal yang positif menurut saya, saat akhir2 ini seringkali yang terlihat dimedia social malah perdebatan tentang perbedaan pendapat dari para aktivis dakwah. Namun pada satu titik mereka satu suara.

Satu hal lagi yang menarik menurut saya dari pernyataan seorang plitikus muda itu dalam vidio wawancara di youtub tsb. “jangan sampai deh ya, gerakan ini dibawa diparelemen bisa kacau nanti”. Suatu pernyataan yang justru memicu pikiran aktivis anti pacaran untuk berfikir “gimana kalo kita wujudkan aja kata2 itu, kita usulkan ini jadi RUU”

Hal yang menarik lainnya adalah salah satu pengalaman saya dalam menggunakan media social, dimana saya adalah salah satu follower dari akun resmi gerakan Indonesia Tanpa Pacaran. Saya ingat pada tahun 2016 lalu ketika ada acara aksi 212, ketika itu akun ITP (singkatan dari Indonesia Tanpa Pacaran) mengupload foto aksi itu, saya perhatikan kolom komentar, ada sebagian nitizin yang menjadi folowernya berkomentar “jangan sampai gerakan ini bernuansa politik dong” kira2 seperti itulah pernyataan yang saya tangkap dari komentar nitizen.
Hal tersebut sekarang justru menjadi kontradiksi ketika yang menolak gerakan tersebut malah seorang politikus.
Artinya ada satu pihak bahkan kelompok yang tidak suka dengan gerakan ini, terbukti dari beragamnya pendapat nitizen dikolom komentar misalnya.

Memang mungkin saja pernyataannya itu hanya pendapat pribadinya, bukan bagian dari pandangan politik. Akan tetapi bagi saya, itu sulit dipercaya karna dalam politik semua sudh diatur, dan tidak mungkin itu disebar tanpa pertimbangan yang matang. Tentunya untuk kepentingan politik yang bersangkutan.

Terakhir mungkin analisa dari saya.
Saya melihat adanya polarisaasi nitizen soal gerakan ini.
Dan polarisasi itu punya hubungan dengan isu2 lainnya. Seperti isu penghapusan Perda syariah, pernikahan beda agama,atau mungkin polarisasi politik. Namun terkait masalah ini, belum bisa saya buktikan karena masih kurangnya data terkait masalah ini.

Saya pribadi melihat pro-kontra tentang masalah ini seolah menjadi perang opini antara aktivis dakwah dengan kelompok sekuler, bahkan kelompok anti islam.
Satu harapan dari saya, semoga gerakan ini menjadi gambaran dan motivasi bagi para aktivis dakwah untuk bersatu dan mengesampingkan perbedaan. Karena tentunya ada masalah2 urgen yeng menuntut untuk kita bersatu.
Jika para penentang syariat saja bersatu kenapa kita harus terpecah belah?

Salam damai !! @Aziz_lintang

Artikel Populer

INDONESIA TANPA PACARAN, GERAKAN PEMERSATU AKTIVIS DAKWAH

- INDONESIA TANPA PACARAN, GERAKAN PEMERSATU AKTIVIS DAKWAH Gerakan #IndonesiaTanpaPacaran atau ITP adalah suatu gerakan di media social y...