Jumat, 15 Mei 2020

Orang yang Ngirim Surat Ke Pak Jokowi dan Bilang RT/RW-nya Nggak Adil dalam Pembagian Bansos itu BOHONG!!


Orang yang Ngirim Surat Ke Pak Jokowi dan Bilang RT/RW-nya Nggak Adil dalam Pembagian Bansos itu BOHONG!!

sumber : facebook
Akhir-akhir ini semua platform media sosial di indonesia sering kali kita jumpai ada surat terbuka dari nitizen buat Presiden Jokowi, yang curhat kalo dia nggak dapet Bansos karena dia nggak saudaraan sama RT atau RW nya. Bahkan dia sampai mengusulkan agar pendataan penerima Bansos itu dilkukan oleh tim khusus, agar pendataan penerima Bansos tidak pilih kasih. Berikut kira-kira isi suratnya :

Kepada yth
Bapak Presiden, Pak Gubernur dan Pak Bupati

Dengan Hormat,
Tolong pak kalo mau ngasih bantuan sosil virus corona, jangan lewat RT atau RW karena warga perantau yang ngontrak  tidak pernah dapat jatah. Biasanya malah sodara dan temen2 dekat mereka yang dapat, kalo bisa bentuk tim khusus aja, biar adil dan merata.

Begitu kira-kira isi suratnya, entah siapa yang pertama membuatnya, yang pasti banyak sekali nitizen yang me repost surat tersebut, dan menulis bahwa hal itu juga terjadi di daerahnya. Ada banyak sekali postingan-postingan serupa yang intinya, nitizen menyoal banyaknya Bansos yang salah sasaran, dan menyalahkan Pak RT, Pak RW ataupun Pak Kadesnya.

 Sebenarnya nggak ada yang salah jika netizen menyoal hal tersebut, cuman banyak dari kita yang belum faham dasar dari permasalahan yang sebenarnya terjadi di lapangan, sehingga saya berasumsi bahwa orang yang membuat surat terbuka telah ‘berbohong’.

Orang yang paling memahami ekonomi masyaratnya ya pasti Pak RT/RW-nya sendiri
Bagaimana mungkin kita menyuruh tim khusus untuk turun mendata masyarakat dibawah, padahal orang ini tidak tau seluk-beluk masyarakat dikampung tersebut. Sedang orang yang tentunya paling tau malah kita anggap pilih kasih.
Orang yang menganggap Pak RT, Pak RW, ataupun Pak Kades nya nggk adil dan pilih kasih dianya aja yang nggak mau speak up dari awal. Dia nggak mau mengawasi pendataan dari awal, harusnya dia tanya dong sama Pak RT, Pak RW, ataupun Pak Kades nya, apakah dia sudah dimasukkan kedalam data penerima Bansos apa nggak. Kalaupun dia nggak bisa, ya masa sih tetangganya satupun nggak ada yang bisa?.

Kesalahan Sistem Dari Awal
Yang saya tau terkait dengan pendataan masyarakat, apakah itu penerima Bansos, Kartu Pra Kerja, PKH, atau apalah namanya kartu-kartu saktinya pemerintah itu, emang ada kesalahan kecil yang sangat mendasar, dimana kesalahan kecil itulah yang membuat kesalahan besar itu muncul. Contohnya aja nih :

Tidak Ada Indikaator Yang Jelas Tentang Kriteria Masyarakat Miskin

Bagaimana mungkin kita bisa mendata masyarakat miskin, sedangkan kita nggak tau yang mana sih yang disebut masyarakat miskin itu. Ibarat kita mau main bola tapi nggak ada bola, yang planga-plongo jadinya, nggak jelas.
Okelah kalo alasannya “kan tiap-tiap daerah itu beda-beda bos. Kebutuhan hidup tiap-tiap daerah itu beda”. Ya makanya tiap-tiap daerah itu buat indikator sendiri-sendiri dong. “Kan itu udah dilakukan dari dulu bos”. Ya kalo udah dilakukan dari dulu kenapa bisa kayak gini?, itu artinya ada yang belum beres dimasalah indikator ini.

Nama Penerima Bantuan Kayak Undian Lotre

Satu lagi sistem pendataan yang menurut saya paling nggak jelas adalah Penerima Bantuan Kayak Undian Lotre, bagaimana tidak, yang terjadi dilapangan adalah penentu siapa yang dapet dan siapa yang nggak dapet itu dari pusat, berdasarkan data pengajuan dari daerah.
Nah ini lah yang sebenarnya ingin saya permasalahkan. Pak RT, Pak RW, ataupun Pak Kades itu tugasnya cuman mengajukan nama-nama calon penerima dari daerhnya masing-masing, dimana nama-nama tersebut nantinya disleksi oleh pemerintah pusat, dan nama-nama itu nantinya diumumkan oleh Pak RT, Pak RW, ataupun Pak Kades seolah-olah mereka lah penentunya. Padahal yang terjadi sebenarnya nggak kayak gitu, mereka hanyalah korban dari sebuah sistem yang dari aal memang bobrok.

Padahal, justru yang sering terjadi adalah karena saking baiknya Pak RT, Pak RW, ataupun Pak Kades di masing-masing Desanya, beliau-beliau ini, memasukkan banyak nama (sebagai calon penerima Bansos), apakah itu orang yang miskin banget, miskin, sedikit miskin, ataupun hampir miskin. Kenapa itu terjadi? Karena beliau-beliau ini nggak tau atau belum tau secara pasti indikator miskin itu apa? dan dia nggak tau berapa kuota Bansos yang akan didapat oleh desanya. Jadinya dia ajukan deh sebanyak-banyaknya nama, sembari berharap semoga banyak warganya yang akan dapat Bansos, Padahal dia belum tau pasti siapa aja yang akan dapat, dari sekian nama yang sudah diajukan.

Biar lebih faham yang saya maksud, kita pakek contoh deh.
Misalkan dalam satu Desa ada 100 penduduk. Diantar seratus itu, kita anggap ada 10 orang yang masuk kriteria miskin banget dan jika ada pembagian Bansos, dia harus wajib dapet. Selanjutnya,  ada 20 orang yang masuk kriteria miskin (sebenernya sih 20 orang ini harus dikasih, tapi dengan syarat 10 orang yang miskin banget itu harus dapet dulu). Begitu juga dengan kriteria selanjutnya, yang sedikit miskin dan hampir miskin. Dia harus dapet, dengan syarat kriteria dibawahnya harus semua dapet dulu).
Karena terjadi Covid, Pak Kades pun diperintahkan untuk mendata warganya, siapa saja yang berhak medapat Bantuan Sosial dari Pemerintah. Nah yang terjadi dilapangan adalah, dari 100 penduduk desa itu, saking baik Bapak Kades, dia mengajukan 50 nama (tanpa kriteria yang jelas), sedangkan dia tidak tau pasti, berapa kuota bantuan yang akan didapatkan.
Usut-punya usut, ternyata warganya yang masuk data pusat hanya 40 orang, dan pastinya ada 10 orang yang nggak dapet. Dan yang lebih menyedihkan lagi, ternyata dari 10 itu, ada orang-orang yang masuk kriteria ‘miskin banget’ dan dia nggak dapat Bantuan.
Dan Pak Kades pun dicap sebagai Kades yang pilih kasih, buta mata hatinya, dll. Padahal dia sudah melakukan tugasnya dengan baik, bahkan dia dengan suka rela memasukka nama-nama calon penerima hingga 50 orang dengan harapan semoga banyak yang dapat dari desanya.

Hanya karena kebobrokan sistem ini, diapun dimusuhi, dibuatkan surat terbuka dimedia sosial, dan tentunya menurut saya ini tidak adil baget.
Kalo kita bicara individu orang, ya pasti ada aja satu dua yang melenceng (seperti ngasih saudaranya aja), tapi jangan digeneralisir dong.
Sampai yang baik-baik juga ikut kena imbas, bahkan sampai ada yang mengusulkan menyuruh orang independen dari pemerintah pusat untuk turun mendata masyarakat dibawah, saya nggak habis pikir kalo nantinya harus seperti itu, justru akan menambah biaya dan persoalan dibelakang hari.

Kalo kita mau kedepannya nggak ada kasus Bansos salah sasaran lagi, kita perbaiki sistemnya dong, sekaligus perketat pengawasan sama pemerintah RT/RW atau Desa kita masing-masing. Jangan hanya ngomel-ngomel nggak jelas. Nah untuk Perbaikan sistemnya, baru kita ngomel sama pemerintah yang diatas, masak ngerjain kayak gitu aja nggak bisa, wong pada sekolah tinggi-tinggi toh, apa harus Bapak Kades yang turun tangan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel Populer

INDONESIA TANPA PACARAN, GERAKAN PEMERSATU AKTIVIS DAKWAH

- INDONESIA TANPA PACARAN, GERAKAN PEMERSATU AKTIVIS DAKWAH Gerakan #IndonesiaTanpaPacaran atau ITP adalah suatu gerakan di media social y...