SEMUA KARENA POLITIK - Assalamualaikum,
Perkenalkan saya Aziz, merasa sebagai
pengamat politik yang punya hak untuk berkomentar tentang negrinya sendiri.
Saya bukan orang berpendidikan tinggi yang punya gelar, apalagi dibidang
politik yang menurut saya adalah suatu bidang kehidupan yang kejam. Saya
melihat, mendengar, menyaksikan, membaca, dan tau tentang politik kebanyakan
dari kegiatan saya berselancar diduni social media. Dimana saya melihat hal
baru dalam hidup yang begitu rumit dan panjang untuk diceritakan satu persatu
secara mendetail.
![]() |
| sumber : http://tandaseru.id/gempa-politik-jelang-pilkada-2018-dan-pilpres-2019/ |
Awal dulu saya mulai menggunakan media social
Facebook, saya tidak sengaja berteman dengan orang yang terlibat dalam politik,
dan secara otomatis, algoritma yang diatur sedemikian rupa di facebook
menyarankan saya untuk mengikuti fanpage-fanpage yang berafiliasi dengan partai
politik. Saya sempat terbawa dalam dunia doktrin-mendoktrin, dan merasa respect
dengan kelompok tertentu, saya mulai terbawa untuk membaca pedebatan-perdebatan
panjang yang tak berujung.
Dan bagaikan gayung bersambung, saya
coba ikut digrup-grup yang bertema politik, saya baca-baca, semua isinya
tentang bagaimana menjatuhkan lawan, memuji kelompok sendiri, dan mengatakan
berjuang atas nama rakyat. Setelah masuk grup saya mulai memiliki dua sudut
pandang tentang politik, yang semula terdoktrin dengan satu kelompok atau
pandangan tertentu, akhirnya setelah membaca dan mendengar kelompok lainnya
saya mulai menerima juga pola fikir kelompok yang satunya.
Saya tipe seorang pendengar setia, atau
kalo dimedsos disebut silet rieder (pembaca sunyi) saya tidak pernah
berkomentar tentang suatu masalah tertentu yang sedang diperdebatkan, saya
tidak pernah mau terjebak dalam pedebatan para nitizan yang tak punya akhir.
Di media social, saya banyak belajar,
tipe-tipe penggunanya, mulai dari anak meme, orang politik, orang kampungan,
orang alay, orang sok cool, orang inspiratif, pedagang online, aktivis,
provokator, artis, ilmuan, pengajar, dll. Yang tidak habis untuk diceritakan.
Saya memilih menceritakan bagaimana dinamika orang-orang politik di media
social.
***
Di
Indonesia, sejak sebelum pemilu tahun 2014 terpolarisasi menjadi belasan
kelompok politik, dimana belasan kelompok tersebut bisa dikatakan sebagai
orang-orang partai politik yang akan beradu dalam pemilihan legislative pada
tahun 2014. Belasan kelompok orang-orang ini awalnya sama berlomba,
mempromosikan calon-calon legislator yang mereka usung masing-masing, dimana
isi konten yang mereka sebarkan tentang treck record calonnya,
prestasi-prestasinya dll. Hanya sedikit sekali konten yang mereka sebarkan yang
menjatuhkan kelompok tertentu atau yang menyerang lawan mereka.
Setelah
pemilu legislative berakhir, dan partai-partai politik tersebut mulai untuk
saling berkoalisi, dan membentuk poros-poros untuk mengusung calon presiden.
Mulailah percikan-percikan api itu mulai muncul, entah darimana asalnya, siapa
yang memulainya, saya juga tidak tahu persis. Saya hanya menyaksikan begaimana
panasnya media social kala itu, dengan perdebatan-pedebatan tentang banyak hal,
mulai soal isu-isu Agama, PKI, radikal dll.
Dua
kelompok tersebut seolah tiada henti saling serang. Entah darimana saya
mengawali cerita ini. Tapi itulah yang saya tahu tentang pertikaian mereka
didunia maya. Samapai sekarang saat saya menulis artikel ini pada tahun 2018,
pertikaian kedua kelompok ini terus terjadi dengan berbagai dinamikanya, saya
mungkin tidak bisa menceritakan secara khusus dan mendetail menceritakan
permasalahan-permasalahan yang sedang menjadi perdebatan mereka dari waktu
kewaktu, mungkin saya akan menceritakannya dalam artikel yang lain.
Sekian
cerita singkat dari saya, kita saksikan saja bagaimana kelanjutan dari derama
politik Indonesia ini kedepannya, yang pasti apapun atau bagaimanapun pandangan
politik anda, mari kita junjung rasa cinta terhadap Indonesia.
Wassalamualaikum..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar