Kamis, 04 Oktober 2018

SEMUA KARENA POLITIK



SEMUA KARENA POLITIK - Assalamualaikum,
Perkenalkan saya Aziz, merasa sebagai pengamat politik yang punya hak untuk berkomentar tentang negrinya sendiri. Saya bukan orang berpendidikan tinggi yang punya gelar, apalagi dibidang politik yang menurut saya adalah suatu bidang kehidupan yang kejam. Saya melihat, mendengar, menyaksikan, membaca, dan tau tentang politik kebanyakan dari kegiatan saya berselancar diduni social media. Dimana saya melihat hal baru dalam hidup yang begitu rumit dan panjang untuk diceritakan satu persatu secara mendetail.
sumber : http://tandaseru.id/gempa-politik-jelang-pilkada-2018-dan-pilpres-2019/

 Awal dulu saya mulai menggunakan media social Facebook, saya tidak sengaja berteman dengan orang yang terlibat dalam politik, dan secara otomatis, algoritma yang diatur sedemikian rupa di facebook menyarankan saya untuk mengikuti fanpage-fanpage yang berafiliasi dengan partai politik. Saya sempat terbawa dalam dunia doktrin-mendoktrin, dan merasa respect dengan kelompok tertentu, saya mulai terbawa untuk membaca pedebatan-perdebatan panjang yang tak berujung.
Dan bagaikan gayung bersambung, saya coba ikut digrup-grup yang bertema politik, saya baca-baca, semua isinya tentang bagaimana menjatuhkan lawan, memuji kelompok sendiri, dan mengatakan berjuang atas nama rakyat. Setelah masuk grup saya mulai memiliki dua sudut pandang tentang politik, yang semula terdoktrin dengan satu kelompok atau pandangan tertentu, akhirnya setelah membaca dan mendengar kelompok lainnya saya mulai menerima juga pola fikir kelompok yang satunya.
Saya tipe seorang pendengar setia, atau kalo dimedsos disebut silet rieder (pembaca sunyi) saya tidak pernah berkomentar tentang suatu masalah tertentu yang sedang diperdebatkan, saya tidak pernah mau terjebak dalam pedebatan para nitizan yang tak punya akhir.
Di media social, saya banyak belajar, tipe-tipe penggunanya, mulai dari anak meme, orang politik, orang kampungan, orang alay, orang sok cool, orang inspiratif, pedagang online, aktivis, provokator, artis, ilmuan, pengajar, dll. Yang tidak habis untuk diceritakan. Saya memilih menceritakan bagaimana dinamika orang-orang politik di media social.
***
Di Indonesia, sejak sebelum pemilu tahun 2014 terpolarisasi menjadi belasan kelompok politik, dimana belasan kelompok tersebut bisa dikatakan sebagai orang-orang partai politik yang akan beradu dalam pemilihan legislative pada tahun 2014. Belasan kelompok orang-orang ini awalnya sama berlomba, mempromosikan calon-calon legislator yang mereka usung masing-masing, dimana isi konten yang mereka sebarkan tentang treck record calonnya, prestasi-prestasinya dll. Hanya sedikit sekali konten yang mereka sebarkan yang menjatuhkan kelompok tertentu atau yang menyerang lawan mereka.
Setelah pemilu legislative berakhir, dan partai-partai politik tersebut mulai untuk saling berkoalisi, dan membentuk poros-poros untuk mengusung calon presiden. Mulailah percikan-percikan api itu mulai muncul, entah darimana asalnya, siapa yang memulainya, saya juga tidak tahu persis. Saya hanya menyaksikan begaimana panasnya media social kala itu, dengan perdebatan-pedebatan tentang banyak hal, mulai soal isu-isu Agama, PKI, radikal dll.
Dua kelompok tersebut seolah tiada henti saling serang. Entah darimana saya mengawali cerita ini. Tapi itulah yang saya tahu tentang pertikaian mereka didunia maya. Samapai sekarang saat saya menulis artikel ini pada tahun 2018, pertikaian kedua kelompok ini terus terjadi dengan berbagai dinamikanya, saya mungkin tidak bisa menceritakan secara khusus dan mendetail menceritakan permasalahan-permasalahan yang sedang menjadi perdebatan mereka dari waktu kewaktu, mungkin saya akan menceritakannya dalam artikel yang lain.
Sekian cerita singkat dari saya, kita saksikan saja bagaimana kelanjutan dari derama politik Indonesia ini kedepannya, yang pasti apapun atau bagaimanapun pandangan politik anda, mari kita junjung rasa cinta terhadap Indonesia.
Wassalamualaikum..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel Populer

INDONESIA TANPA PACARAN, GERAKAN PEMERSATU AKTIVIS DAKWAH

- INDONESIA TANPA PACARAN, GERAKAN PEMERSATU AKTIVIS DAKWAH Gerakan #IndonesiaTanpaPacaran atau ITP adalah suatu gerakan di media social y...