MERAH HITAM PUTIH HIJAU - Assalamualaikum saudaraku....
Perkenalkan namaku Abror, saat ini usiaku genap 8 tahun. Aku adalah anak pertama dari tiga berasaudara. Aku punya dua orang adik, namanya Syifa dan Hamdan. Syifa sekarang usianya 5 tahun dan Hamdan 3 tahun. Keluarga kami adalah keluarga pas – pasan, bahkan bisa dikatakan kami termasuk keluarga yang kurang mampu jika dibandingkan dengan kalian. Sehari – hari ibu hanya memberi kami makan dengan sepotong roti gandum, tak jarang adikku yang paling kecil Hamdan menangis karena ingin makan daging, tapi ibu selalu punya cara untuk mendiamkan tangisnya yang kencang.
![]() |
| ilustrasi Abror sumber : google.com |
Ayah ku adalah seorang pedagang sayur di pasar pinggir kota, sementara Ibuku adalah seorang Ibu rumah tangga. Meski hidup pas pasan atau bahkan bisa dikatakan serba kekurangan namun aku tidak pernah mengeluh dengan keadaan, tugasku sebagai anak adalah membanggakan orangtuaku, mungkin tidak bisa dengan materi, cukup dengan apa yang aku bisa. Beruntunglah diusiaku yang ke enam tahun, atau dua tahun yang lalu aku berhasil menghafal Al-qur’an di madrasahku.
Madrasahku tidak seperti kalian, di kotaku tidak ada sekolah seperti ditempat kalian, disini tidak ada sekolah !, yang ada hanya masjid. Kalian pasti bertanya kenapa masjid aku anggap madrasah?? Iyya begitulah. Di kotaku memang jauh berbeda dengan di kota lain. Disini masjid adalah rumah kedua kami. Al-qur’an adalah teman kami. Jauh dari pengaruh dunia luar, jauh dari dunia gadged dan arus gelobalisasi yang kejam.
Meski dikota kecilku ini bisa dikaakan sangat terbelakang dari teknologhi, namun dikotaku ini, semua penduduknya sangat ramah dan penyayang, wajah tersenyum dan bahagia tak pernah terlepas dari penduduk kotaku, meski kami disini mayoritas orang miskin. Kami tidak pernah menampakkan kemiskinan kami, kami tidak pernah mengeluh dengan keadaan yang sedang kami jalani, bahkan kami selalu bersyukur masih diberi nikmat sehat oleh Allah.
***
Madrasahku tidak seperti kalian, di kotaku tidak ada sekolah seperti ditempat kalian, disini tidak ada sekolah !, yang ada hanya masjid. Kalian pasti bertanya kenapa masjid aku anggap madrasah?? Iyya begitulah. Di kotaku memang jauh berbeda dengan di kota lain. Disini masjid adalah rumah kedua kami. Al-qur’an adalah teman kami. Jauh dari pengaruh dunia luar, jauh dari dunia gadged dan arus gelobalisasi yang kejam.
Meski dikota kecilku ini bisa dikaakan sangat terbelakang dari teknologhi, namun dikotaku ini, semua penduduknya sangat ramah dan penyayang, wajah tersenyum dan bahagia tak pernah terlepas dari penduduk kotaku, meski kami disini mayoritas orang miskin. Kami tidak pernah menampakkan kemiskinan kami, kami tidak pernah mengeluh dengan keadaan yang sedang kami jalani, bahkan kami selalu bersyukur masih diberi nikmat sehat oleh Allah.
***
Setiap hari aku selalu menghabiskan waktuku di masjid, bersama adikku Syifa, sedangkan Hamdan tidak bisa aku bawa, karena dia agak rewel dan suka menangis. Kehidupanku sehari hari memang agak jauh berbeda dengan kalian. Aku tidak pernah merasakan sekolah, punya seragam, memakai sepatu, dan perlengkapan sekolah lainnya. Jika pagi hari, kegiatan biasanya setelah membantu bapak menyiapkan dagangannya untuk dibawa kepasar aku mengajak adikku pergi ke masjid. Disini banyak sekali teman – teman seusiaku. Masjid benar – benar sebagai rumah kedua bagi anak – anak dikotaku ini.
Meski jauh dari moderenisasi, namun aku sangat bahagia dengan kehidupanku saat ini, barmain seharian dengan teman – teman dimesjid. Sambil diajari membaca dan menghafal AL-qur’an oleh pak Imam masjidi, inilah kegiatan keseharianku yang benar – benar sangat aku syukuri.
Meski jauh dari moderenisasi, namun aku sangat bahagia dengan kehidupanku saat ini, barmain seharian dengan teman – teman dimesjid. Sambil diajari membaca dan menghafal AL-qur’an oleh pak Imam masjidi, inilah kegiatan keseharianku yang benar – benar sangat aku syukuri.
***
Namun semua kebahagiaan yang ku rasakan sirna setelah kejadian yang tak berperikemanusiaan itu kembali menimpa kotaku, iyya begitulah yang kami rasakan. Kami setiap hari berada dalam bayang-bayang ketidak adilan dan penindasan. Kami setiap hari dikekang dan tak bisa bebas melakukan apapun. Mesjid kami yang dulunya menjadi tempat yang sangat menyenangkanpun saat ini diawasi.
Kotaku yang dulu aku banggakan kini telah berubah menjadi tempat yang menakutkan karena ulah manusia iblis biadap yang merebut hak manusia dengan penjajahan. Penjajahan yang tak berperikemanusiaan. Teman – teman yang seusiaku banyak yang dibunuh begitu saja. Perempuan – perempuan banyak diperkosa. Dan begitulah kehidupan dikotaku saat ini mencekam, dan menyedihkan. Bahkan hanya untuk keluar rumah saja kita sungguh amat takut, karena dibayang – bayangi rudal yang bisa saja menghantam kita kapapun.
Kotaku yang dulu aku banggakan kini telah berubah menjadi tempat yang menakutkan karena ulah manusia iblis biadap yang merebut hak manusia dengan penjajahan. Penjajahan yang tak berperikemanusiaan. Teman – teman yang seusiaku banyak yang dibunuh begitu saja. Perempuan – perempuan banyak diperkosa. Dan begitulah kehidupan dikotaku saat ini mencekam, dan menyedihkan. Bahkan hanya untuk keluar rumah saja kita sungguh amat takut, karena dibayang – bayangi rudal yang bisa saja menghantam kita kapapun.
***
Hari itu hari jum’at, saat ayahku membawaku pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat jum’at. Sungguh miris yang kita alami, kita digeledah seolah ingin memasuki tempat asing. Padahal itu adalah masjid kami, kami tak kenal mereka, kenapa mereka memperlakukan kami seperti ini. Bahkan tak semua penduduk kota bisa masuk kedalam masjid, banyak yang melaksanakan sholat jum’at dihalaman masjid karena tak diizinkan masuk oleh iblis berwujud manusia itu.
Kejadian memilukan kembali terjadi kepadaku, darrr !!! suara yang sangat besar mengguncangkan kota. Aku bertanya kepada kepada ayahku “ayah suara apakah itu ?” “itu suara bom anakku sayang” dengan tersenyum ayah menjawab pertanyaanku. Setelah suara yang engagetkan itu penduduk kota sungguh sangat panik. Wajah ayahku yang tadinya tersenyum berubah menjadi panik. Orang – orang semua berlari mencari perlindungan. Karena suara itu muncul dimana – mana. Dan meledakkan rumah – rumah penduduk.
Ayahku segera menggendongku dan berlari, “kita mau kemana ayah ?” kita pulang nak, kita temui ibu dan adik – adikmu, lalu kita cari tempat berlindung”. Saat berada dalam gendongan ayahku aku melihat rumah-rumah yang tadinya berdiri tegak sekarang bagaikan timbunan pasir, suara bom itu silih berganti dengan suara lautan tangis yang menyayat hati. Hingga aku terpaksa menghentikan langkah kaki ayahku saat berada didepan rumah seorang temanku rizky.
“ayah berhenti.. liat itu rizky, dia tertimbun dibawah reruntuhan rumahnya”, hanya kepalanya yang nampak, meski aku tidak jelas melihat mukanya, namun aku yakin ini adalah rumahnya. Dan aku sangat hafal betul bagaimana suara tangisannya. Kita pun berhenti sejenak didpan rumahnya rizky yang kini menjadi seperi timbunan pasir. Ayahku bergegas menolongya, mengeluarkannya dari reruntuhan rumahnya sendiri, akan tetapi ayah dan ibunya tidak bisa terselamatkan. Keduanya meninggal bersama, tertimbun dibawah rumahnya yang hancur terkena rudal iblis biadap.
Hari itu kian perih apa yang aku rasakan, saat ayahku membantu mengeluarkan jenazah ayah dan ibu rizky, tiba – tiba secara mengejutkan rudal itu kembali menghancurkan rumah rizky, padahal rumah itu sudah luluh lantah, namun tetap terkena rudal untuk kedua kalinya. Perasaanku saat itu benar-benar tersentak, “ayah ! ayah !” teriakku sambil menangis dan mengusap air mataku. Ayahku terkena reruntuhan, mukanya diselimuti debu, tubuhnya terhempas jauh dari posisi awal. Sungguh kian menambah perih dan derita yang aku rasakan.
Ku kejar ayahku, kudekati ia, kupeluk tubuhnya, kupegang erat tangannya,
“ayah tidak apa – apakan, jangan tinggalkan abror yah, abror masih membutuhkan ayah, abror sayang ayah”,
“iyya nak, ayah tidak apa – apa”. Saat itu aku benar – benar khawatir akan keadaan ayahku, tubuhnya sangat lemas, kepalanya mengeluarkan darah, suaranya melemah. Ayahku memang mengatakan dia tidak apa – apa, tapi aku merasakan begitu sakit yang ia rasakan saat itu.
“ayah bertahanlah, akan aku bawa ayah ke posko terdekat”
“tidak perlu nak, ayahmu tidak apa – apa” ayah ku selalu berkata seperti itu, dan membuatku kian bersedih melihatnya,
“nak, jaga ibu dan adikmu baik-baik ya”
“memangnya ayah mau kemana, sehingga berkaa begitu?”
“tidak nak, ayah hanya menasihatimu” tangisku kian mengencang saat mendengar kata – kaa itu dari ayahku, seolah dia ingin pergi meninggalkanku. Dan aku belum sangup untuk hal itu.
“nak, demi Tuhan pemilik alam semesta, jangan sekali – kali kau beri sejengkalpun tanah ini kepada iblis itu, lanjutkanlah perjuangan ayah, bebaskanlah negrimu, pegang erat tangan ayah”
“iyya yah,,, iyya,,”
“pegang teguh agamamu, pertahankan mesjid kita nak, meski itu dengan mengorbankan segala apa yang kamu punya, bahkan dengan nyawamu sekalipun”
Itu kata – kata terakhir yang kudengar dari ayahku, karena ia telah meninggalkan kita untuk selamanya. Aku benar – benar mengingat apa yang ayahku sampaikan kepaku, kata – kata itu benar – benar tertanam dalam jiwaku
.
***
Kejadian memilukan kembali terjadi kepadaku, darrr !!! suara yang sangat besar mengguncangkan kota. Aku bertanya kepada kepada ayahku “ayah suara apakah itu ?” “itu suara bom anakku sayang” dengan tersenyum ayah menjawab pertanyaanku. Setelah suara yang engagetkan itu penduduk kota sungguh sangat panik. Wajah ayahku yang tadinya tersenyum berubah menjadi panik. Orang – orang semua berlari mencari perlindungan. Karena suara itu muncul dimana – mana. Dan meledakkan rumah – rumah penduduk.
Ayahku segera menggendongku dan berlari, “kita mau kemana ayah ?” kita pulang nak, kita temui ibu dan adik – adikmu, lalu kita cari tempat berlindung”. Saat berada dalam gendongan ayahku aku melihat rumah-rumah yang tadinya berdiri tegak sekarang bagaikan timbunan pasir, suara bom itu silih berganti dengan suara lautan tangis yang menyayat hati. Hingga aku terpaksa menghentikan langkah kaki ayahku saat berada didepan rumah seorang temanku rizky.
“ayah berhenti.. liat itu rizky, dia tertimbun dibawah reruntuhan rumahnya”, hanya kepalanya yang nampak, meski aku tidak jelas melihat mukanya, namun aku yakin ini adalah rumahnya. Dan aku sangat hafal betul bagaimana suara tangisannya. Kita pun berhenti sejenak didpan rumahnya rizky yang kini menjadi seperi timbunan pasir. Ayahku bergegas menolongya, mengeluarkannya dari reruntuhan rumahnya sendiri, akan tetapi ayah dan ibunya tidak bisa terselamatkan. Keduanya meninggal bersama, tertimbun dibawah rumahnya yang hancur terkena rudal iblis biadap.
Hari itu kian perih apa yang aku rasakan, saat ayahku membantu mengeluarkan jenazah ayah dan ibu rizky, tiba – tiba secara mengejutkan rudal itu kembali menghancurkan rumah rizky, padahal rumah itu sudah luluh lantah, namun tetap terkena rudal untuk kedua kalinya. Perasaanku saat itu benar-benar tersentak, “ayah ! ayah !” teriakku sambil menangis dan mengusap air mataku. Ayahku terkena reruntuhan, mukanya diselimuti debu, tubuhnya terhempas jauh dari posisi awal. Sungguh kian menambah perih dan derita yang aku rasakan.
Ku kejar ayahku, kudekati ia, kupeluk tubuhnya, kupegang erat tangannya,
“ayah tidak apa – apakan, jangan tinggalkan abror yah, abror masih membutuhkan ayah, abror sayang ayah”,
“iyya nak, ayah tidak apa – apa”. Saat itu aku benar – benar khawatir akan keadaan ayahku, tubuhnya sangat lemas, kepalanya mengeluarkan darah, suaranya melemah. Ayahku memang mengatakan dia tidak apa – apa, tapi aku merasakan begitu sakit yang ia rasakan saat itu.
“ayah bertahanlah, akan aku bawa ayah ke posko terdekat”
“tidak perlu nak, ayahmu tidak apa – apa” ayah ku selalu berkata seperti itu, dan membuatku kian bersedih melihatnya,
“nak, jaga ibu dan adikmu baik-baik ya”
“memangnya ayah mau kemana, sehingga berkaa begitu?”
“tidak nak, ayah hanya menasihatimu” tangisku kian mengencang saat mendengar kata – kaa itu dari ayahku, seolah dia ingin pergi meninggalkanku. Dan aku belum sangup untuk hal itu.
“nak, demi Tuhan pemilik alam semesta, jangan sekali – kali kau beri sejengkalpun tanah ini kepada iblis itu, lanjutkanlah perjuangan ayah, bebaskanlah negrimu, pegang erat tangan ayah”
“iyya yah,,, iyya,,”
“pegang teguh agamamu, pertahankan mesjid kita nak, meski itu dengan mengorbankan segala apa yang kamu punya, bahkan dengan nyawamu sekalipun”
Itu kata – kata terakhir yang kudengar dari ayahku, karena ia telah meninggalkan kita untuk selamanya. Aku benar – benar mengingat apa yang ayahku sampaikan kepaku, kata – kata itu benar – benar tertanam dalam jiwaku
.
***
Setelah ayahku tiada kini keluargaku semakin amat terpukul, ibuku menjadi pendiam, syifa menjadi amat murung, dan Hamdan tak berhenti menangis, semua keluargaku benar – benar merasakan duka dan kehilangan yang amat mendalam.
Kini Ibukulah yang menjadi tumpuan keluarga kami, dan akulah yang menggantikan peran ibu untuk menjadi pengasuh adik – adikku. Disaat ibuku pergi bekerja di pasar, akulah yang menjaga kedua adikku, aku rela tidak makan dan puasa seharian aslakan kedua adikku tidak menangis. Perjuangan keluargaku untuk bertahan hidup tidak pernah menyurutkan semangat dan fokusku untuk terus meneruskan perjuangan ayahku, untuk membebaskan negri kami dari derita penjajahan yang tak berkemanusiaan.
Jika kalian berkujung ke kotaku, pasti kalian terheran melihat anak – anak seusiaku sehari – hari memegang senjata api sebagai mainan, bukan karena kami anak tak terdidik, atau anak yang berhati keras nan kejam. Namun inilah kami, keadaan memaksa kami untuk berjuang mempertahankan diri kami, tanah kami, masjid kami, rumah – rumah kami, bahkan harga diri kami.
Beruntunglah kalian jika saat ini kalian sedang duduk manis membaca kisahku, itu artinya kalian telah merasakan indahnya sekolah, tidak seperti aku, yang bahkan hanya untuk pergi ke masjid dibayang – bayangi rasa takut. Bersyukurlah kalian, negri kalian tidak merasakan apa yang sedang kami rasakan. Cukuplah kami yang merasakan sakitnya dijajah. Kita memang tidak ada hubungan darah saudaraku, tapi ingatlah kita punya Tuhan yang sama, jika kalian tidak bisa membantu kami dengan materi, cukuplah do’a kalian yang kami minta. “semoga masjid yang menjadi salah satu mesjid mulia kita, mesjid tempat Nabi kita berangkat menuju langit saat menerima perintah sholat dari Allah dapat kami bebaskan dari belenggu penjajahan.”
Kini Ibukulah yang menjadi tumpuan keluarga kami, dan akulah yang menggantikan peran ibu untuk menjadi pengasuh adik – adikku. Disaat ibuku pergi bekerja di pasar, akulah yang menjaga kedua adikku, aku rela tidak makan dan puasa seharian aslakan kedua adikku tidak menangis. Perjuangan keluargaku untuk bertahan hidup tidak pernah menyurutkan semangat dan fokusku untuk terus meneruskan perjuangan ayahku, untuk membebaskan negri kami dari derita penjajahan yang tak berkemanusiaan.
Jika kalian berkujung ke kotaku, pasti kalian terheran melihat anak – anak seusiaku sehari – hari memegang senjata api sebagai mainan, bukan karena kami anak tak terdidik, atau anak yang berhati keras nan kejam. Namun inilah kami, keadaan memaksa kami untuk berjuang mempertahankan diri kami, tanah kami, masjid kami, rumah – rumah kami, bahkan harga diri kami.
Beruntunglah kalian jika saat ini kalian sedang duduk manis membaca kisahku, itu artinya kalian telah merasakan indahnya sekolah, tidak seperti aku, yang bahkan hanya untuk pergi ke masjid dibayang – bayangi rasa takut. Bersyukurlah kalian, negri kalian tidak merasakan apa yang sedang kami rasakan. Cukuplah kami yang merasakan sakitnya dijajah. Kita memang tidak ada hubungan darah saudaraku, tapi ingatlah kita punya Tuhan yang sama, jika kalian tidak bisa membantu kami dengan materi, cukuplah do’a kalian yang kami minta. “semoga masjid yang menjadi salah satu mesjid mulia kita, mesjid tempat Nabi kita berangkat menuju langit saat menerima perintah sholat dari Allah dapat kami bebaskan dari belenggu penjajahan.”
Wassalamualaikum saudaraku...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar